Kegiatan Bupati dan Wakil Bupati
18 Mei 2017, 15:59 WIB
Foto : Bupati Tuban H. Fatchul Huda (tengah) saat hadiri pondok Ramadhan. (nng)

Tubankab - Dalam dua bulan terakhir, Bupati Tuban H. Fathul Huda melakukan serangkaian kunjungan ke rumah-rumah fakir miskin yang ada di desa-desa, guna memperoleh barokah Bulan Sya’ban dan menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan.

Bupati yang juga seorang kiai ini menuturkan, banyak pelajaran yang diperoleh sepanjang perjalanan yang dilakukannya. Bupati menjelaskan sebagian pelajaran yang diperoleh yakni, masih ada anak yang tega menelantarkan orangtuanya yang sudah tua renta dan dibiarkan hidup sendiri, serta dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

“Permasalahan seperti ini tidak boleh dibiarkan berkepanjangan, sebisa mungkin harus dihentikan,’’ kata Bupati Tuban H. Fathul Huda saat memberi sambutan pada acara Pembukaan Pondok Ramadhan Siswa/Siswi SMP, MTS, SMA, SMK, dan MA tahun 1438 H / 2017 M di Masjid Agung Tuban, Kamis (18/05).

Huda melanjutkan, salah satu cara memutus permasalahan ini yakni dengan jalan membangun karakter anak-anak. “Orangtua adalah sarana kita masuk surga, kalau kita sudah punya sarana seperti ini kemudian tidak bisa masuk surga, kita termasuk orang yang celaka,” ujarnya.

Lebih jauh suami dari Qodriyah ini menyampaikan, banyak hadist dan ayat-ayat al-Qur’an yang selalu berkaitan antara ibadah kepada Allah dan berbakti kepada orangtua. Hal ini dikarenakan pegabdian kepada orangtua merupakan hal yang sangat penting, karena berbakti kepada orangtua bisa menjadi kunci sukses.

“Berbakti kepada orangtua adalah kunci kesuksesan kita, baik hidup di dunia maupun kehidupan di akhirat kelak,” imbuhnya.

Masih menurutnya, di lapangan juga banyak ditemui kemiskinan yang sangat parah. Akar permasalahan dari itu semua menurut Huda yakni, mereka (fakir miskin) tidak ada yang pernah bersekolah.

“Kemiskinan yang saya lihat, itu kemiskinan yang struktural, mulai dari ayah sampai keturunannya miskin semua. Ini harus kita potong. Kalau tidak, maka kemiskinan ini akan terus berlanjut. Untuk itu mulai sekarang kita harus mempedulikan anak-anak kita yang tidak sekolah, serta yang tidak mampu kita mampukan, kita bantu,” ujarnya panjang lebar.

Lebih lanjut bupati dua periode ini menyampaikan, pelajaran terakhir yang diperolehnya yakni tentang krisis spiritual. Menurut pengakuannya, masih banyak penduduk di desa yang notabene sudah tua renta tidak bisa membaca dua kalimat syahadat, serta tidak bisa mengerjakan sholat.

”Ini semua harus kita putus, dan kita harus semangat merevolusi mental kita dengan keikhlasan,” pungkas Huda. (nng/hei)