Kegiatan Pemerintahan
04 Agustus 2017, 13:58 WIB
Foto : Bupati Tuban K.H. Ftahul Huda saat memberi sambutan pada acara ‘Temu Gayeng’ Bupati dan Wakil Bupati Tuban bersama para notaris se-Kabupaten Tuban di rumah dinas bupati, Kompleks Pendopo Krido

Tubankab - Pemangku jabatan di jajaran Pemkab Tuban ingin mewariskan Tuban yang lebih baik kepada generasi muda, namun di sisi lain terbentur dengan aturan yang tidak menguntungkan bagi pembangunan pemkab.

“Satu contoh, kita butuh 5.000 pegawai, karena setiap tahun ada yang pensiun. Namun moratorium pemerintah pusat melarang mengangkat pegawai,” tandas Bupati Tuban K.H. Ftahul Huda saat memberi sambutan pada acara ‘Temu Gayeng’ Bupati dan Wakil Bupati Tuban bersama para notaris se-Kabupaten Tuban di rumah dinas bupati, Kompleks Pendopo Krido Manunggal Tuban, Jumat (04/08).

Apa yang telah disampaikan oleh bupati “memaksa” pemkab untuk membuat kebijakan dengan mengangkat honorer. Namun, dengan diangkatnya honorer, maka beban pemkab akan lebih berat. Sebab, konsekuensi dari mempekerjakan honorer membutuhkan dana APBD. “Untuk honorer 2018 saja dibutuhkan sekitar Rp. 30 miliar,” aku Huda

Selain menyoroti sisi pegawai, bupati dua periode ini juga menyoroti infrastruktur yang masih banyak kekurangan. Hal ini bukan tanpa sebab, mengingat jumlah penduduk dari tahun ke tahun semakin meningkat, begitupun dengan jumlah kendaraan.

“Lima tahun yang lalu baru sejuta, sekarang sudah 1,3 juta. Belum lagi kendaraan yang setiap tahunnya bertambah antara 37-40 ribu,” ungkapnya.

Didasari pada kenyataan tersebut, kata bupati, maka bukan hal yang aneh jika jalan di Tuban perlu dilebarkan guna memfasilitasi masyarakat. Menurutnya, saat ini baru jalan poros kecamatan yang dilebarkan.

“Yang di desa-desa harusnya juga perlu dilebarkan, tidak hanya sekedar perbaikan. Jalan-jalan pertanian perlu kita tingkatkan agar cost pertanian tidak terlalu mahal,’’ harapnya.

Selain itu, bupati yang juga seorang ulama ini menuturkan, perlu ada fasilitas bagi para remaja yang sering berada di tempat-tempat keramaian atau hiburan. “Kami butuh membangun Alun-alun untuk menjadi ruang terbuka,” kata Huda.

Selain rencana membangun ruang terbuka, bupati juga mengakui terkait pembangunan sport centre. Menurutnya, tempat seperti itu akan bisa jadi sarana untuk menekan kenakalan remaja. “Untuk itu mari kita tata bersama, dan semua sektor nantinya akan saya minta seperti itu. Semua harus punya keyakinan akan kembali ke masyarakat. Orang akan bertindak berdasarkan keyakinan,” pungkasnya. (nanang wibowo/hei)