Berita Umum
21 Oktober 2017, 07:45 WIB
Foto : Ki Sigid Ariyanto (kiri), sebelum tampil mendalang membawakan lakon Wisanggeni Lahir. (chusnul huda)

Tubankab - PT. Semen Gresik (SG) menggelar pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk dengan Dalang Ki Sigid Ariyanto, S.SN dari Rembang, Jawa Tengah di lapangan Perumdin PT SG, Desa Sumurgung, Kecamatan Kota Tuban, Jumat (20/10).

Pagelaran kesenian tradisional warisan leluhur ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Semen Indonesia ke-60.

Ginarko Isnubroto, Direktur Keuangan PT. Semen Gresik (Semen Indonesia Group) dalam sambutannya mewakili direksi menyampaikan, pagelaran wayang kulit tersebut merupakan kegiatan rutin setiap tahun yang diadakan perusahaannya, untuk mengakomodir para pecinta wayang kulit, sekaligus nguri-uri (melestarikan) budaya tanah air dan warisan para leluhur.

Pihaknya juga mengucapkan terima kasih atas kehadiran para undangan dan para pecinta wayang kulit dari berbagai daerah, yang telah sudi datang langsung untuk menyaksikan pagelaran wayang semalam suntuk tersebut.

Ki Sigid Ariyanto, dalang muda yang memiliki sanggar seni Cakraningrat tersebut memilih lakon “Wisanggeni Lahir”. Lakon tersebut mengisahkan kelahiran Wisanggeni diawali dengan kecemburuan Dewasrani, putra Batari Durga terhadap Arjuna yang telah menikahi Batari Dresanala. Dewasrani merajuk kepada ibunya supaya memisahkan perkawinan mereka. Durga pun menghadap kepada suaminya, yaitu Batara Guru, raja para dewa.

Atas desakan Durga, Batara Guru pun memerintahkan agar Batara Brama menceraikan Arjuna dan Dresanala. Keputusan ini ditentang oleh Batara Narada selaku penasihat Batara Guru. Ia pun mengundurkan diri dan memilih membela Arjuna.

Brama yang telah kembali ke kahyangannya segera menyuruh Arjuna pulang ke alam dunia dengan alasan Dresanala hendak dijadikan Batara Guru sebagai penari di kahyangan utama. Arjuna pun menurut tanpa curiga. Setelah Arjuna pergi, Brama pun menghajar Dresanala untuk mengeluarkan janin yang dikandungnya secara paksa.

Dresanala pun melahirkan sebelum waktunya. Durga dan Dewasrani datang menjemputnya, sementara Brama membuang cucunya sendiri yang baru lahir itu ke dalam kawah Candradimuka, di Gunung Jamurdipa.

Narada diam-diam mengawasi semua kejadian tersebut. Ia pun membantu bayi Dresanala tersebut keluar dari kawah. Secara ajaib, bayi itu telah tumbuh menjadi seorang pemuda. Narada memberinya nama Wisanggeni, yang bermakna "racun api". Hal ini dikarenakan ia lahir akibat kemarahan Brama, sang dewa penguasa api. Selain itu, api kawah Candradimuka bukannya membunuh, justru menghidupkan Wisanggeni.

Atas petunjuk Narada, Wisanggeni pun membuat kekacauan di kahyangan. Tidak ada seorang pun yang mampu menangkap dan menaklukkannya, karena ia berada dalam perlindungan Sanghyang Wenang, leluhur Batara Guru. Batara Guru dan Batara Brama akhirnya bertobat dan mengaku salah. Narada akhirnya bersedia kembali bertugas di kahyangan.

Wisanggeni kemudian datang ke Kerajaan Amarta meminta kepada Arjuna supaya diakui sebagai anak. Semula Arjuna menolak karena tidak percaya begitu saja. Terjadi perang tanding di mana Wisanggeni dapat mengalahkan Arjuna dan para Pandawa lainnya.

Setelah Wisanggeni menceritakan kejadian yang sebenarnya, Arjuna pun berangkat menuju Kerajaan Tunggulmalaya, tempat tinggal Dewasrani. Melalui pertempuran seru, ia berhasil merebut Dresanala kembali. (chusnul huda/hei)