Berita Umum
26 Januari 2018, 17:10 WIB
Foto : Jenazah almarhum KH Achmad Mundzir saat akan diberangkatkan ke pemakaman usai disalati. (dadang s)

Tubankab - Kabar duka menyelimuti Kabupaten Tuban, Jumat (26/01) dini hari. KH. Achmad Mundzir meninggal dunia karena sakit yang dideritanya. Almarhum yang mantan Ketua PCNU Tuban ini wafat di usianya yang ke-66 tahun.  

Mantan anggota DPRD Tuban di era Bupati Tuban Hj. Haenny Relawati Rini Widyastuti, ini dikenal sebagai seorang tokoh yang aktif di berbagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan. Tak heran, jika Ketua Baznas Kabupaten ini tak asing di telinga masyarakat Tuban.

Saat melepas kepergian kyai asal Lamongan ini, Bupati Tuban H. Fatchul Huda mengungkapkan, pria yang juga menjabat Ketua Yayasan Mabarot Sunan Bonang dan juga Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) tersebut adalah sosok yang mengabdikan dirinya untuk kepentingan masyarakat. “Beliau dalam bekerja selalu ikhlas,” ujar bupati saat pelepasan jenazah di Masjid Rohmat Tuban usai salat Jumat.

Wakil Ketua Rais Syuriah PCNU Tuban ini, menurut Bupati, adalah sosok yang baik sehingga bukan hanya keluarganya saja yang merasa kehilangan, tapi juga masyarakat Tuban. “Beliau meninggal di hari yang baik dan insyaAllah sebagai pertanda khusnul khotimah,” kata bupati disambut ucapan ‘aamiin' para pentakziah.

Lebih lanjut bupati berpesan pentingya manusia hidup di dunia untuk menyiapkan bekal yang cukup, mengingat kematian akan mendorong manusia itu untuk beramal dan mempersiapkan bekal dengan sebaik mungkin. “InsyaAllah almarhum termasuk orang yang sudah memiliki bekal yang cukup,” pungkas bupati sembari meminta kesaksian para pentakziah bahwa almarhum adalah orang yang baik.

Penulis buku Sunan Bonang, wali, sufi, guru sejati ini dimakamkan di Kompleks Makam Sunan Bonang Tuban, sebelumnya dilaksanakan salat jenazah di Masjid Rohmat dan Masjid Astana Sunan Bonang. Selain bupati, terlihat juga pentakziah adalah wakil bupati, Kepala OPD, camat, tokoh agama dan tokoh masyarakat, serta ratusan orang pentakziah lainnya. (dadang setiawan/hei)