Berita Umum
30 Januari 2018, 16:25 WIB
Foto : Para santri Pondok Pesantren Daruttauhid Al- Hasaniyyah saat sedang serius menimba ilmu yang diperoleh dari pengasuhnya. (nurul jamilah)

Tubankab - Menyusul telah dibangunnya Menara Rukyatul Hilal di Desa Banyuurip, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, Ma’had Aly Al-Hasaniyah di bawah asuhan Pondok Pesantren Daruttauhid Al- Hasaniyyah, Desa Sendang, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, mengembangkan kajian Ilmu Falakiyah atau Ilmu Astronomi.

Wakil Mundir Bidang Akademik Ma’had Aly Al- Hasaniyah, Kyai Bahrun Amiq ketika dikonfirmasi, Selasa (30/01) mengatakan, dibangunnya Menara Rukyatul Hilal di Desa Banyuurip, Kecamatan Senori, memberikan gambaran, jika Senori bisa menjadi pusat kajian ilmu falak di KabupatenTuban. “Dulu kalau mau lihat hilal, awalnya kan di Tanjung Awar- Awar, tetapi ternyata ada tempat yang lebih representatif, yaitu di Banyuurip, karena juga lebih tinggi tempatnya,” katanya.

Ia  menjelaskan, awalnya menara tersebut hanya akan digunakan dua kali selama setahun. Oleh karena itu, Ma’had Aly Al-Hasaniyah atas izin dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tuban, mencoba memanfaatkan menara tersebut untuk pengembangan ilmu falak atau ilmu astronomi menurut Islam. “ Ya, kami lihat itu kok eman, jadi alangkah lebih baik kita manfaatkan. Terlebih lembaga kami memiliki Ma’had Aly Al-Hasaniyah yang juga consern terhadap ilmu falakiyah, termasuk di dalamnya ilmu hisab, serta ilmu bagaimana melihat hilal,” terang Kyai Amiq.

Kyai Amiq juga mengatakan, pihaknya membuka dengan lebar bagi masyarakat umum, untuk ikut belajar ilmu falak di Ma’had. “Kami membuka kesempatan kepada siapa saja untuk belajar atau mengikuti pelatihan di Ma’had kami,” cetusnya.

Ilmu falak dalam Ma’had Aly Al-Hasaniyah masuk dalam mata kuliah wajib setiap santri, praktek langsung atau lajnah falakiyah di bawah asuhan Ustaz Ihtirozun Ni’am, dan dilaksanakan di Menara Rukyatul Hilal. “Ada sarana, ada SDM juga. Kami memiliki tenaga pengajar khusus untuk ilmu falak, dan memang ahli di bidangnya,” terang Kyai Amiq.

Kyai Amik menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya akan melaksanakan penandatanganan nota kesepahaman atau MOU antara Ma’had Aly Al-Hasaniyah Pondok Pesantren Daruttauhid Al-Hasaniyyah dengan Kemenag Tuban secara resmi. “Kami sudah bicarakan ini dengan Kemenag, dan dalam waktu dekat, insyaAllah penandatanganan MOU akan dilaksanakan,” kata pria yang juga pengasuh Pondok Pesantren Daruttauhid Al-Hasaniyyah ini.

Sementara itu, dosen Ma’had Aly Al- Hasaniyah ustaz Ihtirozun Ni’am yang juga mentor untuk ilmu falak mengatakan, potensi Kecamatan Senori menjad pusat pembelajaran ilmu falak tidak menjadi mustahil, sebab semangat untuk menggelorakan ilmu astronomi atau perbintangan dalam Islam dimiliki oleh para santri setempat.

“Saya optimis Senori bisa melakukannya, apalagi mengingat pentingnya ilmu falak, akan sangat bermanfaat nantinya, jika ini dapat terwujud,” kata pria lulusan Magister Ilmu Falak IAIN Walisanga Semarang ini. 

Ustad yang juga berhasil menemukan alat penentu arah kiblat yang ia beri nama Aizun Diel atau Al-Murobba’ ini juga menjelaskan, dengan adanya embrio dari Ma’had Aly Al-Hasaniyah, serta kerjasama dengan Kemenag, nantinya diharapkan ilmu falak  yang dianggap telah dilupakan saat ini dapat berkembang, sehingga bukan tidak mungkin Tuban bisa menjadi pusat kajian falak nasional.

“Banyak teman saya yang juga berkecimpung di bidang astronomi yang kagum dengan semangat santri di sini, terlebih setelah melihat sarananya sudah ada, yaitu Menara Ru’yatul Hilal di Banyuurip. Impian Tuban bisa menjadi tempat tujuan orang- orang yang ingin belajar ilmu falak, insyaAllah dapat terlaksana,” terang pria yang biasa disapa Ustaz Izun ini.

Untuk mengoptimalkan proses pembelajaran, dalam waktu dekat, pihaknya juga akan membeli teropong bintang. “Alhamdulillah menggunakan dana dari yayasan, kami akan membeli teropong bintang di Bandung. Diharapkan, hal ini bisa memberikan peningkatan kemampuan para santri. Jadi, santri juga tidak kalah, selain bisa baca kitap kuning, juga bisa mengerti ilmu astronomi sama dengan mahasiswa dari kampus lain,” tutup Izun. (nurul jamilah/hei)