Berita Umum
05 Februari 2018, 13:50 WIB
Foto : Sejumlah mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Makhdum Ibrahim (STITMA) Tuban menggelar aksi keprihatinan mengenang wafatnya guru SMA di Sampang, Madura. (chusn

Tubankab - Puluhan aktivis mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Makhdum Ibrahim (STITMA) Tuban menggelar aksi keprihatinan mengenang wafatnya guru SMA 1 Torjun, Sampang, Madura Ahmad Budi Cahyono yang dianiaya muridnya sendiri hingga tewas beberapa hari lalu.

Aksi keprihatinan tersebut dilakukan di bundaran patung Letda Sucipto Tuban, Senin (05/02), sekaligus pembagian karangan bunga yang diberikan kepada para pengendara pengguna jalan yang melintas, sebagai simbol duka cita terhadap guru kesenian tersebut.

Khoirul Marom, Ketua BEM STITMA Tuban saat ditemui usai aksi mengatakan, aksi tersebut wujud keprihatinan atas tragedi kekerasan dalam pendidikan di Sampang, Madura yang terjadi terhadap guru honorer yang diduga dilakukan oleh muridnya sendiri.

“Harapannya, moral anak bangsa atau pelajar di Indonesia lebih menghargai sosok guru,” harapnya.

Output dari aksi tersebut, BEM STITMA Tuban merekomendasikan agar kejadian tersebut merupakan tragedi kekerasan yang terakhir dalam dunia pendidikan. Mereka juga berpesan, agar wali murid melakukan pengawasan terhadap anak-anaknya saat berada di lingkungan keluarga.

Dan yang terpenting, semoga kejadian itu tidak terjadi di Kabupaten Tuban. “Pelajar harus mengerti pentingnya menghormati dan menghargai jasa guru yang telah mendidik dan mengajar, serta jadilah pelajar sebagai generasi penerus bangsa,’’ pungkasnya.

Dalam aksi tersebut, tampak puluhan aparat kepolisian jajaran Polres Tuban mengamankan lalu lintas agar tidak mengganggu pengguna jalan yang lewat dan tidak terjadi kemacetan. (chusnul huda/hei)