Berita Umum
08 Februari 2018, 13:34 WIB
Foto : Kepala Sekolah (Kasek) SMP Negeri 3 Drs. Mat Sa’roni (ketiga dari kiri) sedang berpose bersama siswa-siswanya yang berhasil meraih prestasi di ajang lomba robotik. (nanang w)

Tubankab - SMP Negeri 3 Tuban kembali membuktikan bahwa sekolah yang berada di Jalan Sunan Kalijaga tersebut merupakan gudangnya prestasi. Betapa tidak, setelah tahun lalu berhasil menyabet predikat sekolah sehat tingkat nasional, awal tahun ini sekolah tersebut berhasil membawa pulang gelar juara pertama Robotic School dan juara ketiga Robotic Soccer. Kedua gelar juara tersebut diraih saat mengikuti event lomba robotic tingkat internasional yang diselenggarakan di Singapura dan Thailand 25-28 Januari silam.

Kepala Sekolah (Kasek) SMP Negeri 3 Drs. Mat Sa’roni yang didampingi Humas SMP Negeri 3 Tuban Hasan Ashari, S.Pd serta para peserta lomba, ketika diwawancarai wartawan di ruangannya, Kamis (08/02) membenarkan hal tersebut. Ia mengakui event lomba robotic tersebut merupakan event pertama yang diikuti oleh sekolahnya. Awalnya, kata Sa’roni, tidak ada target juara karena hanya ingin mencari pengalaman. Namun tak disangka, anak didiknya berhasil meraih prestasi pada ajang tersebut.

“Kemarin kita kirim 6 siswa dan mendapat juara semua, ternyata di sana kita dapat juara 1, 2, dan 3. Akhirnya dari penyelenggara mengesahkan sebagai juara umum robotic school, karena kita dapat juara paling banyak,” aku Sa’roni.

Mantan Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Palang ini juga mengakui, selama pembinaan untuk mengikuti perhelatan di negara tetangga tersebut, tidak banyak kendala yang dihadapi. Ini dikarenakan para siswanya sudah memiliki dasar terkait robotic, baik secara otodidak maupun melalui les privat.

Sementara itu, para siswa yang berlaga pada ajang tersebut yakni, Steven Jo Sugiarto, Muhammad Irfan Haikal Athallah, Cheerisa Shafani Anataya Perasetyo, Laili Salsabila Aulia Fadhilah, Alfin Shidqi, dan Timothy Kharisma Utama Imanuel hampir seragam dalam menuturkan pengalamnya terkait robotic. Hampir dari semua remaja ini mengaku, keterampilan robotik diperoleh secara otodidak dan melihat video di jejaring sosial.

“Dasarnya sih suka otak-atik sendiri sambil nonton youtube, sama kalau papa lagi benerin teve atau bongkar-bongkar sama ngerakit teve, suka bantuin,” ujar Steven.

Sementara itu, Cheerisa berpendapat, dengan diraihnya prestasi semacam ini, pihak sekolah akan lebih mendukung lagi kegiatan robotic, dengan cara menambah sarana dan prasarana terkait robotic dan juga memasukan kegiatan ini ke dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah.

Masih pada kesempatan yang sama, Hasan Ashari mengamini apa yang disampaikan oleh para siswanya. Ia berjanji akan berupaya memasukan kegiatan robotic ke dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah ke depannya. Dengan begitu, sambungnya, siswa yang berbakat di bidang robotic akan terlihat dan lebih banyak.

“Sebetulnya yang berbakat banyak, namun kemarin kita hanya kirim 6 siswa dengan pertimbangan selain menguasai ilmunya, mereka juga mampu secara financial, karena anggaran ke sana murni dari mereka sendiri,” lontar Hasan.

Sa’roni di akhir pertemuan dengan wartawan juga menitipkan harapan kepada siswanya untuk terus menggeluti dan lebih percaya diri untuk berkompetisi dengan ahli robotic dari negara lain. Namun demikian, mantan guru SMP Negeri 6 Tuban ini mengatakan, yang lebih penting dari itu adalah dasar Emotional Quotient (EQ), terlebih SMP Negeri 3 termasuk sekolah yang terkenal dengan pendidikan karakter.

“Seperti kata pak bupati, orang pandai itu banyak, namun orang yang bisa ngerti itu sulit. Semoga dengan dasar ilmu dan karakter yang bagus, anak-anak kita ke depannya bisa jadi panutan,”  harap bapak 3 anak ini. (nanang wibowo/hei).