Pelajar SMPN 2 Tuban Tembus Vulnerability Hall of Fame WHO, Belajar Cybersecurity Bermodal HP Android
- 10 October 2026 20:07
- Yavid
- Umum,
- 22
Tubankab – Usia muda bukan penghalang untuk berprestasi di bidang teknologi digital. Hal itu dibuktikan M. Rafka Brian S., pelajar SMPN 2 Tuban berusia 15 tahun, yang namanya tercatat dalam Vulnerability Hall of Fame milik Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO).
Berdasarkan laman resmi WHO, Rafka tercatat sebagai salah satu peneliti keamanan siber yang melaporkan kerentanan jenis Information Disclosure pada 30 Agustus 2026. Pencapaian tersebut menjadi bukti kontribusi pelajar asal Kabupaten Tuban dalam mendukung keamanan sistem digital melalui pelaporan kerentanan secara etis.
Daftar Vulnerability Hall of Fame merupakan bentuk apresiasi WHO kepada individu yang melaporkan celah keamanan pada sistem informasi yang dapat diakses publik. Setelah kerentanan ditangani, nama pelapor dicantumkan dalam daftar resmi tersebut.
Rafka mengaku menemukan celah keamanan berupa informasi yang seharusnya tidak dapat diakses secara terbuka. Temuan itu kemudian dilaporkan melalui jalur resmi agar dapat diverifikasi dan ditindaklanjuti oleh pihak terkait.
Menariknya, perjalanan Rafka mempelajari keamanan siber dilakukan secara otodidak dengan memanfaatkan telepon seluler berbasis Android. Tanpa bergantung pada laptop, ia mempelajari berbagai materi keamanan digital melalui internet serta mengikuti ujian sertifikasi dari sejumlah platform pembelajaran daring.
Dari proses tersebut, Rafka mengaku telah mengantongi lebih dari 25 sertifikasi di bidang cybersecurity atau keamanan siber. Ketekunan belajar secara mandiri menjadi salah satu modalnya untuk terus mengembangkan kemampuan di bidang teknologi informasi.
Rafka merupakan putra dari pasangan Isna Fuji Astuti dan Yudi Herianto. Dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan pelajar asal Kabupaten Tuban ini mengembangkan minat dan kemampuannya di bidang teknologi digital.
Bagi Rafka, keamanan siber bukan sekadar kemampuan menemukan celah dalam sebuah sistem, melainkan juga tentang tanggung jawab menggunakan pengetahuan secara tepat. Pelaporan kerentanan harus dilakukan melalui prosedur yang benar, bukan dimanfaatkan untuk mengakses, mengambil, atau menyebarkan informasi tanpa izin.
Ia berharap pengalamannya dapat menjadi inspirasi bagi pelajar lain di Kabupaten Tuban untuk mengenal dunia keamanan digital. Menurutnya, keterbatasan perangkat bukan alasan untuk berhenti belajar selama tersedia kemauan, akses terhadap sumber belajar, dan komitmen untuk menggunakan ilmu secara positif.
Kisah Rafka menjadi pengingat bahwa peluang untuk mengembangkan kompetensi digital terbuka bagi siapa saja, termasuk pelajar yang memulai dari perangkat sederhana. Dengan rasa ingin tahu, konsistensi, dan etika, teknologi dapat menjadi ruang untuk berkarya sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Profil dan pencapaian Rafka dapat ditelusuri melalui laman resmi "WHO Vulnerability Hall of Fame" (https://www.who.int/about/cybersecurity/vulnerability-hall-of-fame/ethical-hacker-list). (kdg/yav)










