Peserta pelatihan mempraktikkan teknik menenun Gedhog sebagai upaya melestarikan warisan budaya khas Tuban.

Cetak Regenerasi Penenun, Disnakerin Tuban Latih Perempuan Muda dan Beri Alat Tenun Gedhog

Tubankab - Regenerasi penenun menjadi fokus Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerin) Kabupaten Tuban dalam menjaga kelestarian Tenun Gedhog, warisan budaya khas daerah. Melalui Bidang Perindustrian, Disnakerin menggelar Pembinaan dan Pengembangan Sentra Industri Kecil Menengah (IKM) Tenun Gedhog bagi perempuan berusia 16 hingga 35 tahun.

Pelatihan dilaksanakan dalam dua tahap, yakni 10 hingga 24 Juli 2026 dan 27 Juli hingga 10 Agustus 2026. Tahap pertama diikuti peserta dari Desa Gaji, sedangkan tahap kedua melibatkan peserta dari Desa Gaji dan Desa Margorejo.

Kepala Bidang Perindustrian Disnakerin Kabupaten Tuban, Eryan Dewi Fatmawati, mengatakan pelatihan ini merupakan upaya menjawab minimnya regenerasi penenun di Tuban. Saat ini, sebagian besar penenun aktif telah berusia di atas 60 tahun.

"Target utamanya adalah pelestarian Tenun Gedhog yang saat ini semakin langka. Kami tidak hanya fokus pada produk batiknya, tetapi juga pada penguasaan teknik menenun agar warisan budaya ini tetap lestari dan diminati generasi muda," ujarnya, Senin (27/7).

Selama 14 hari, peserta mempelajari seluruh proses pembuatan Tenun Gedhog, mulai dari pengolahan kapas hingga menjadi selembar kain. Setiap hari mereka menjalani pelatihan selama delapan jam yang mencakup 21 tahapan menenun.

Sebagai bekal untuk terus berkarya, Pemerintah Kabupaten Tuban juga memberikan alat tenun gedhog secara gratis kepada setiap peserta. Bantuan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mempraktikkan keterampilan yang telah diperoleh sekaligus mulai menghasilkan produk secara mandiri.

Untuk menjaga kualitas hasil tenun, Disnakerin bekerja sama dengan LPK Solusi Kreasiindo Malang yang menghadirkan mentor bersertifikat serta memberikan pendampingan setelah pelatihan.

Kepala Disnakerin Kabupaten Tuban, Rohman Ubaid, mengatakan Tenun Gedhog merupakan warisan budaya khas Tuban yang telah memperoleh pengakuan Hak Kekayaan Intelektual Indikasi Geografis (HKI IG). Karena itu, pelestariannya menjadi tanggung jawab bersama.

"Tenun Gedhog merupakan kerajinan budaya khas Tuban yang telah memperoleh pengakuan secara nasional. Kami berharap para peserta dapat menjadi generasi penerus yang terus menjaga dan mengembangkan warisan budaya ini agar tetap lestari," katanya.

Rohman juga mengajak pelaku usaha batik di Tuban untuk menyerap hasil karya para peserta. Menurutnya, langkah tersebut dapat membuka peluang usaha sekaligus meningkatkan kesejahteraan para penenun muda.

Komitmen tersebut mendapat dukungan dari Batik Sekar Ayu sebagai mitra pelatihan. Pemilik Batik Sekar Ayu, Uswatun, mengapresiasi dukungan Disnakerin dalam menyelenggarakan pelatihan sekaligus menyatakan kesiapan pihaknya menampung hasil produksi peserta.

"Alhamdulillah, kualitas hasil tenun peserta sangat baik. Bahkan, beberapa peserta pelatihan sebelumnya sudah rutin berproduksi dan menjual hasilnya kepada kami. Kami berharap semangat menenun ini terus berlanjut sehingga dapat menjadi sumber penghasilan sekaligus menjaga kelestarian Tenun Gedhog Tuban," tuturnya.

Pada kegiatan tersebut juga dilakukan penilaian terhadap kain Tenun Gedhog hasil karya peserta pelatihan periode sebelumnya. Disnakerin juga berencana menyelenggarakan pelatihan pembuatan tenun lurik sebagai upaya pelestarian warisan budaya lain yang kini mulai jarang ditemui. Target berikutnya adalah mendorong tenun lurik memperoleh sertifikat Hak Kekayaan Intelektual Indikasi Geografis (HKI IG). (fufu/yav)

comments powered by Disqus