Dari Mimpi Masa Kecil, Zahra Cantika Dipercaya Jadi Pembawa Baki Paskibraka Tuban
- 19 August 2026 10:15
- Yavid
- Umum,
- 36
Tubankab – Mimpi yang tumbuh sejak masa kanak-kanak akhirnya terwujud bagi Zahra Cantika Anggreini. Siswi SMAN 1 Singgahan asal Desa Sendang, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, tersebut dipercaya menjadi pembawa baki dalam Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Kabupaten Tuban, Senin (17/8).
Gadis berusia 16 tahun itu mengaku ketertarikannya terhadap Paskibraka telah tumbuh sejak kecil. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Zahra kerap melihat Paskibraka tingkat kecamatan dan membayangkan dirinya dapat menjadi bagian dari pasukan tersebut. Keinginan sederhana itu kemudian membawanya pada pengalaman yang jauh lebih besar.
“Sejak kecil saya sering melihat Paskibraka kecamatan dan menginginkan posisi itu. Ternyata Tuhan memberikan saya lebih hingga bisa menjadi Paskibraka Kabupaten,” ungkapnya kepada reporter Tubankab, Rabu (19/8).
Putri pertama pasangan Mujiarto dan Siti Shofiatun tersebut sebelumnya belum memiliki prestasi khusus di bidang Paskibraka. Namun, ia memiliki kecintaan terhadap seni, khususnya menyanyi dan menari. Bahkan, ia beberapa kali dipercaya mengisi berbagai kegiatan dengan menyumbangkan lagu.
Menurut penuturan Zahra, perjalanan menjadi bagian dari Paskibraka Kabupaten Tuban dimulai ketika sekolahnya membuka pendaftaran bagi siswa yang berminat mengikuti seleksi. Ia kemudian mengikuti seleksi tingkat sekolah dengan sejumlah tahapan, mulai dari pengukuran tinggi dan berat badan, tes fisik, hingga Peraturan Baris-Berbaris (PBB).
Setelah dinyatakan lolos, Zahra melanjutkan seleksi tingkat zona. Pada tahapan tersebut, peserta kembali menjalani seleksi PBB, pengukuran tinggi dan berat badan, serta pemeriksaan kesehatan. Hasilnya diumumkan pada hari yang sama dan Zahra kembali dinyatakan lolos.
Selanjutnya, ia mengikuti seleksi tingkat Kabupaten Tuban. Seleksi dilakukan lebih komprehensif, meliputi tes fisik, PBB, parade, Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensi Umum (TIU), serta pemeriksaan kesehatan.
Setelah menunggu beberapa pekan, Zahra akhirnya dinyatakan lolos sebagai anggota Paskibraka Kabupaten Tuban Tahun 2026. “Alhamdulillah, saya bisa lolos atas restu Allah dan doa dari orang-orang yang sayang kepada saya,” tuturnya.
Rangkaian proses tersebut telah dijalani sejak Januari hingga April 2026. Selain mengikuti seleksi secara bertahap, Zahra juga harus menjalani latihan secara konsisten untuk mempersiapkan diri menghadapi setiap tahapan.
Kejutan berikutnya datang ketika proses latihan dan pemilihan pasukan berlangsung. Saat itu, Zahra mendapat kepercayaan menjadi pembawa baki dalam prosesi pengibaran bendera. Kepercayaan tersebut membuatnya terkejut sekaligus bangga.
“Saya sangat kaget dan tidak menyangka bisa mendapatkan kepercayaan dari pelatih dan yang lainnya untuk menjadi pembawa baki. Tentunya saya sangat bangga pada diri saya sendiri bisa memegang posisi penting itu,” katanya.
Untuk memastikan dirinya siap menjalankan tugas tersebut, Zahra mendapatkan latihan tambahan. Selain mengikuti latihan fisik bersama anggota Paskibraka lainnya, ia menjalani latihan khusus untuk memperkuat tangan dan membiasakan diri membawa beban.
Dalam latihan tersebut, baki diberi tambahan beban agar dirinya terbiasa membawa beban yang lebih berat. Dengan begitu, ia tidak kaget saat menjalankan tugas pada hari upacara.
Latihan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan langkah dan ketenangan ketika menjalankan prosesi di hadapan Bupati Tuban dan para undangan.
Menjalankan tugas di lapangan upacara bukan tanpa rasa gugup. Zahra mengakui dirinya sempat merasa sangat tegang sebelum memasuki tempat persiapan. Namun, ia berusaha mengendalikan perasaan tersebut dengan menenangkan diri dan meyakinkan dirinya bahwa ia mampu menjalankan tugas.
Rasa gugup kembali muncul ketika prosesi pengambilan bendera dan penyerahan langsung kepada Bupati Tuban berlangsung. Meski demikian, Zahra berusaha menjaga fokus, ketenangan, serta keseimbangan langkah hingga seluruh rangkaian tugas selesai.
Bagi Zahra, prosesi pengambilan bendera di peringgitan hingga penyerahan di podium menjadi salah satu momen paling berkesan selama mengikuti seluruh rangkaian Paskibraka.
“Semua momen sangat mengesankan, mulai dari pembukaan diklat hingga malam keakraban. Tetapi waktu pengambilan bendera di peringgitan dan di podium yang diserahkan langsung oleh Bupati Tuban adalah salah satu momen yang paling mengesankan dan membuat saya sangat bangga,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai kepercayaan tersebut membawa tanggung jawab sekaligus kehormatan besar. Menjadi pembawa baki bukan hanya soal menjalankan gerakan secara tepat, tetapi juga menjaga nama baik pasukan dan membawa semangat nasionalisme dalam setiap langkah.
Rangkaian latihan yang dijalani Zahra tentu menghadirkan rasa lelah. Namun, kondisi tersebut tidak pernah membuatnya berpikir untuk menyerah. Sebaliknya, semangat dari rekan-rekan sesama Paskibraka menjadi salah satu kekuatan yang membuatnya terus menjalani setiap tahapan.
Selama sekitar dua pekan mengikuti pendidikan dan pelatihan, Zahra juga harus meninggalkan kegiatan belajar di sekolah. Ia mendapatkan dispensasi dan tetap berupaya memenuhi tanggung jawab akademiknya dengan meminta bantuan teman untuk mengirimkan tugas-tugas sekolah.
Baginya, menjadi Paskibraka merupakan kesempatan berharga yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh tanpa meninggalkan tanggung jawab sebagai pelajar.
Tak hanya itu, pengalaman menjadi Paskibraka Kabupaten Tuban menjadi bekal penting bagi Zahra untuk menatap masa depan. Ia berencana memanfaatkan sertifikat prestasi Paskibraka sebagai salah satu modal untuk mendaftar ke perguruan tinggi melalui jalur prestasi.
Selain melanjutkan pendidikan, Zahra juga memiliki harapan untuk dapat menjadi abdi negara. Menurutnya, pengalaman selama menjadi Paskibraka telah memberikan banyak pelajaran tentang disiplin, ketahanan fisik dan mental, kepemimpinan, serta kekompakan.
“Para pelatih dan Purna Paskibraka yang mendampingi selama diklat mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan tugas, kepemimpinan, serta kekompakan dalam menyatukan langkah demi Sang Saka Merah Putih,” katanya.
Karena pengalaman tersebut, Zahra pun menyampaikan pesan kepada para pelajar yang ingin mengikuti seleksi Paskibraka pada tahun berikutnya agar mempersiapkan diri sejak dini. “Menjadi seorang Paskibraka bukan hanya tentang berdiri gagah di lapangan atau melangkah serentak dalam barisan. Lebih dari itu, Paskibraka adalah wujud kehormatan serta kepemimpinan,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa proses panjang yang dijalani selama seleksi dan latihan merupakan bagian penting menuju keberhasilan. “Proses tidak akan pernah mengkhianati hasil. Setiap keringat dan usaha yang kalian curahkan hari ini adalah langkah menuju panggung kehormatan di tahun 2027,” pesannya.
Bagi Zahra, perjalanan dari seorang anak yang dahulu mengagumi Paskibraka di tingkat kecamatan hingga dipercaya membawa baki di tingkat Kabupaten Tuban menjadi bukti bahwa sebuah mimpi dapat tumbuh menjadi kenyataan ketika disertai keberanian untuk mencoba, ketekunan berlatih, dukungan keluarga, dan doa.
“Persiapkan diri kalian sebaik mungkin, jaga semangat, dan jadilah kebanggaan keluarga serta Kabupaten Tuban,” pungkasnya. (kdg/yav)










