Kemenag RI dan DFAT Melihat Langsung Praktik Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah Tuban
- 28 August 2026 19:58
- Yavid
- Kegiatan Pemerintahan,
- 86
Tubankab – Cara nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) hadir dalam keseharian siswa menjadi perhatian Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) dan Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Setelah berjalan selama lebih dari enam bulan di sejumlah madrasah, penerapan KBC di Kabupaten Tuban ditinjau langsung melalui Joint Visit, Jumat (28/8).
Peninjauan tersebut berlangsung di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Tuban. Rombongan melihat proses pembelajaran di sejumlah kelas sekaligus menyimak praktik yang telah dijalankan madrasah sebagai bagian dari proyek percontohan KBC di Kabupaten Tuban.
Dalam kunjungan itu, hadir Staf Khusus Menteri Agama Bidang Pendidikan, Farid Saenong, Ph.D., Sesdirjen Pendidikan Islam, Prof. Dr. Arskal Salim, M.A., Direktur GTK Madrasah, Dr. Fesal Musaad, M.Pd., serta Tenaga Ahli Menteri Bidang Pendidikan, Dr. Jojon Noviandi. Dari pihak mitra, hadir Counsellor for Knowledge, Innovation, and Humanitarian Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT), Paula Gerhardt, bersama tim INOVASI.
Rombongan yang didampingi Kepala Kantor Kemenag Tuban, Umi Kulsum, S.Ag., M.Pd.I., disambut para siswa MIN 1 Tuban. Setelah melihat proses pembelajaran, para kepala madrasah yang menjadi bagian dari proyek percontohan memaparkan praktik penerapan KBC yang telah berlangsung di lingkungan masing-masing.
Dari pengamatan tersebut, Sesdirjen Pendidikan Islam Kemenag RI, Prof. Dr. Arskal Salim, M.A., menilai penerapan KBC di Tuban menunjukkan perubahan cara pandang dalam proses pendidikan. Menurutnya, pembelajaran mulai bergeser dari pola yang berpusat pada guru menuju pendidikan yang menempatkan nilai sebagai bagian penting dalam proses belajar.
“Senang sekali bisa hadir dan melihat langsung bukti nyata implementasi KBC di Tuban. Dari apa yang saya lihat hari ini, ada pergeseran paradigma yang dahsyat, yakni perubahan fase dari teacher-centered (berpusat pada guru) menjadi value-centered (berpusat pada nilai). Ini perubahan luar biasa dan kami harap bisa diimbaskan ke madrasah-madrasah lain,” ungkapnya.
Sejalan dengan itu, Farid Saenong, Ph.D., menilai pengalaman madrasah di Tuban dalam menerapkan KBC dan ekoteologi menjadi hal yang perlu terus dikembangkan. Ia juga mengapresiasi pendampingan INOVASI dalam mendukung program Kemenag.
“Hal-hal positif ini harus terus dipertahankan dan ditingkatkan. Kami juga mengapresiasi dukungan rekan-rekan dari INOVASI yang sangat aktif mendampingi program kementerian, khususnya terkait KBC dan ekoteologi,” jelasnya.
Bagi madrasah, penerapan KBC tersebut diterjemahkan melalui pembiasaan dan keteladanan dalam keseharian. Kepala MIN 1 Tuban, Shorihatul Inayah, mengatakan nilai-nilai religiusitas diterapkan tanpa paksaan dengan mendorong guru memberikan teladan serta pendampingan langsung kepada siswa.
“Nilai-nilai religiusitas kami terapkan tanpa paksaan. Para guru dituntut aktif memberikan teladan yang baik serta pendampingan langsung. Menjadi kebanggaan bagi kami ditunjuk sebagai pilot project di Kecamatan Tuban. Tentu, ke depan akan ada pengimbasan ke madrasah-madrasah lain di sekitarnya,” paparnya.
Praktik tersebut kemudian menjadi bagian dari pembahasan dalam sesi refleksi. Pengawas Madrasah Ibtidaiyah Wilayah Kecamatan Tuban, Samsul Huda, melaporkan bahwa monitoring implementasi KBC di Tuban berjalan lancar. Sejumlah nilai karakter, menurutnya, mulai tumbuh di lingkungan madrasah.
“Meskipun masih ada tantangan, insyaallah ke depannya implementasi KBC di Tuban akan lebih baik. Kami sangat berharap kegiatan pendampingan seperti ini terus mendapat dukungan, baik dari tim INOVASI maupun jajaran Kemenag dari pusat hingga kabupaten, demi mewujudkan madrasah yang hebat, bermartabat, maju, bermutu, dan mendunia,” harap Samsul Huda.
Sementara itu, Paula Gerhardt melihat praktik KBC di madrasah sebagai bagian dari kemitraan pendidikan antara Australia dan Indonesia melalui program INOVASI. Menurutnya, pengalaman dan praktik baik yang muncul dari madrasah dapat menjadi masukan bagi pengembangan kebijakan pendidikan ke depan.
Setelah peninjauan di madrasah, rangkaian agenda dilanjutkan dengan Refleksi Implementasi KBC di MAN 1 Tuban. Forum tersebut dihadiri langsung Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI, Prof. Dr. Amien Suyitno, M.Ag., Paula Gerhardt, serta Direktur INOVASI, Sri Rezki Widuri.
Dalam sesi refleksi, Amien Suyitno menekankan bahwa KBC tidak berhenti pada pengenalan istilah atau konsep kepada siswa. Menurutnya, ukuran penerapan KBC justru terlihat dari bagaimana nilai-nilai tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari di madrasah.
Karena itu, penerapan KBC juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan usia siswa. Media pembelajaran seperti lagu, permainan, serta aktivitas yang dekat dengan keseharian anak dapat digunakan untuk menginternalisasikan nilai-nilai tersebut dalam proses belajar.
Bagi Kabupaten Tuban, kunjungan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk melihat kembali perkembangan program yang telah berjalan. Pendampingan terhadap 10 madrasah piloting telah berlangsung lebih dari enam bulan dan menunjukkan perubahan, terutama pada pola pikir guru dalam mendampingi siswa.
Melalui evaluasi dan refleksi bersama, praktik yang telah tumbuh di madrasah diharapkan dapat terus dikembangkan serta dibagikan kepada madrasah lainnya. Dengan demikian, nilai KBC tidak berhenti sebagai konsep, melainkan semakin terlihat dalam cara guru mengajar, siswa belajar, dan seluruh warga madrasah membangun lingkungan pendidikan yang berkarakter. (fufu/yav)










