Ritual Tukon Banyu Nggawan menjadi bagian dari upaya warga merawat Bengawan Solo dan tradisi leluhur. (ist)

Merawat Bengawan Solo dari Tepian, Warga Tuban Hidupkan Kembali Tradisi dan Kebersamaan

Tubankab – Bagi warga yang hidup di tepian Bengawan Solo, sungai bukan sekadar bentang alam yang mengalir di hadapan rumah mereka. Bengawan Solo menjadi bagian dari keseharian, tempat tradisi tumbuh, sekaligus ruang yang ikut menopang kehidupan masyarakat. Kesadaran itulah yang kemudian membawa warga berkumpul dalam Deklarasi SABHYANADIPALA di Desa Kebomlati, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Minggu (23/8).

Deklarasi tersebut mengusung semangat merawat Bengawan Solo sekaligus menjaga tradisi dan kehidupan masyarakat yang tumbuh di sekitarnya. Karena itu, pelestarian sungai dipandang perlu berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan penguatan ekonomi warga bantaran.

Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Plumpang Saefiyudin, S.STP., M.AP., Kapolsek Plumpang Iptu Danny Rhakasiwi, S.H., M.H., Kepala Kompilasi Sekber Jokokalibe BBWS Solo Wilayah Hilir Ir. Atekan Andriono, Suyono, S.Sos. dari Konsorsium Sungai Indonesia, Ketua MEBS Tofan Ardi, anggota DPRD Tuban Tia Antika Pramesti, Kepala Desa Kebomlati Moenidjan, serta sejumlah tokoh masyarakat lainnya.

Dalam deklarasi yang mengusung tema “Merawat Bengawan Solo, Menjaga Peradaban, Melestarikan Budaya” tersebut, menjadikannya momentum ajakan bagi berbagai elemen masyarakat untuk kembali melihat sungai sebagai bagian dari kehidupan sekaligus warisan yang perlu dijaga bersama.

Sejalan dengan tema tersebut, SABHYANADIPALA dimaknai sebagai gerakan akar rumput masyarakat yang berkomitmen menjaga Bengawan Solo sebagai sumber kehidupan sekaligus bagian dari sejarah dan peradaban masyarakat Tuban, khususnya warga yang tinggal di tepian sungai.

Bagi masyarakat setempat, hubungan dengan Bengawan Solo telah terjalin dari generasi ke generasi. Karena itu, sungai tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga menyimpan nilai sosial, ekonomi, sejarah, dan budaya yang tercermin dalam berbagai tradisi serta kearifan lokal masyarakat.

Camat Plumpang Saefiyudin menilai hubungan antara pelestarian budaya dan kesejahteraan masyarakat perlu terus dibangun. Menurutnya, budaya lokal yang dirawat dan dikembangkan dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat di kawasan tepian Bengawan Solo.

“Pelestarian budaya, khususnya di wilayah tepian Bengawan Solo, secara otomatis bisa meningkatkan perkembangan ekonomi masyarakat. Di sisi lain, kita juga bisa menjaga kelestarian Bengawan Solo,” tambah Kang Asep, sapaan akrab Camat Plumpang.

Untuk menerjemahkan semangat tersebut dalam kegiatan nyata, rangkaian deklarasi tidak hanya diisi dengan pembacaan komitmen. Panitia juga menggelar napak tilas “Ngintir Bengawan Solo” dengan rute dari Desa Ngadirejo, Kecamatan Rengel, hingga Desa Kebomlati, Kecamatan Plumpang.

Kegiatan susur sungai tersebut sekaligus menjadi cara untuk mengingat kembali kedekatan masyarakat dengan Bengawan Solo. Selain itu, digelar pula ritual “Tukon Banyu Nggawan” sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan terhadap air sebagai sumber kehidupan.

Rangkaian kegiatan kemudian dilengkapi Pagelaran Budaya. Salah satu yang menarik perhatian warga ialah pementasan teatrikal “Wayang Blang Bleng” yang dibawakan dalang Ki Ompong Sudharsono.

Melalui pertunjukan tersebut, pesan mengenai pentingnya menjaga lingkungan disampaikan dengan pendekatan seni budaya lokal. Cara itu membuat pesan pelestarian Bengawan Solo lebih dekat dengan masyarakat sekaligus menghadirkan hiburan bagi warga yang mengikuti kegiatan.

Antusiasme ratusan warga yang hadir di Desa Kebomlati pun menjadi bagian penting dari rangkaian deklarasi. Mereka tidak hanya menyaksikan kegiatan, tetapi turut mengambil bagian dalam upaya mengenalkan kembali nilai sungai, budaya, dan tradisi yang hidup di lingkungan masyarakat.

Dengan semangat tersebut, Deklarasi SABHYANADIPALA diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Gerakan itu diharapkan berlanjut melalui aksi nyata untuk menjaga kelestarian Bengawan Solo, merawat tradisi lokal, serta membuka ruang bagi tumbuhnya ekonomi masyarakat di sepanjang bantaran sungai. (sis jp/yav)

comments powered by Disqus