Lakon "Kaukus Ngino" yang dibawakan oleh Teater Micro. (ist)

Pentaskan 10 Lakon dalam Dua Hari, Tiwikrama Jadi Panggung Ekspresi Pemuda Tuban

  • 03 August 2026 15:57
  • Yavid
  • Umum,
  • 50

Tubankab - Selama dua hari, panggung Festival Teater Pemuda Tuban 2026 "Tiwikrama" menjadi ruang perjumpaan ide, kreativitas, dan keberanian generasi muda Tuban dalam berkesenian. Sebanyak 10 kelompok teater pelajar dan komunitas menampilkan karya terbaik mereka pada 1-2 Agustus 2026, menghadirkan beragam cerita yang lahir dari proses kreatif anak-anak muda daerah.

Festival yang digagas Tiwikrama Foundation ini hadir dengan semangat menjadikan seni pertunjukan sebagai ruang tumbuh bagi generasi muda. Bagi penyelenggara, panggung teater bukan sekadar tempat menampilkan pertunjukan, melainkan ruang belajar, berkarya, berkolaborasi, sekaligus membangun kepedulian terhadap realitas sosial di sekitarnya.

Ketua Pelaksana Festival Teater Pemuda Tuban 2026, Ahmad Rifa'i KA, mengatakan festival tersebut lahir dari kegelisahan sekaligus harapan terhadap masa depan teater pemuda di Kabupaten Tuban.

"Harapan terbesar saya adalah menjadikan Festival Tiwikrama ini sebagai kawah candradimuka yang sesungguhnya. Saya sering melihat anak-anak muda kita berproses dengan penuh peluh dan dedikasi, dan karya-karya luar biasa itu tidak boleh dibiarkan mati atau hanya berhenti di ruang-ruang latihan," ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Senin (3/8).

Menurutnya, setiap proses kreatif yang dijalani para pelajar dan komunitas teater membutuhkan ruang apresiasi yang sehat agar dapat berkembang secara berkelanjutan. Karena itu, Festival Tiwikrama dirancang bukan hanya sebagai ajang pementasan, tetapi juga sebagai investasi kebudayaan jangka panjang.

"Melalui panggung ini, kami ingin merawat daya hidup kebudayaan kita. Saya berharap wadah ini mampu menumbuhkan keberanian generasi muda, mengasah kepekaan mereka terhadap realitas sosial, dan menjadikan seni teater sebagai instrumen pemberdayaan pemuda yang berdaya guna," katanya.

Hari pertama festival yang digelar Sabtu (1/8) dibuka dengan pementasan Teater Hitam Putih melalui lakon Kapai-Kapai. Panggung kemudian dilanjutkan oleh Sanggar Pemuda Bergerak dengan pertunjukan Suara, Teater Linggi dengan Kucing, Teater Hawa melalui Tujuh Air, Satu Karat, serta Teater Sindik Wahyu Khawedar yang membawakan Arya Adhikarya.

Sementara itu, hari kedua pada Minggu (2/8) menghadirkan penampilan Teater Angsa dengan Nyanyian Angsa, Teater Laskar Jr melalui Sapata Shinta, Teater Micro dengan Kaukus Ngino, Teater Sekawan Entertainment yang membawakan Dwaya Jiwana, serta Teater Asta Gumolong melalui lakon Dhemit.

Beragam tema yang diangkat dalam pementasan menunjukkan besarnya potensi kreativitas generasi muda Tuban. Setiap kelompok menghadirkan tafsir, gaya pementasan, dan pendekatan artistik yang berbeda, mencerminkan keberagaman gagasan yang tumbuh di kalangan pelajar maupun komunitas teater.

Ahmad Rifa'i berharap Festival Tiwikrama tidak berhenti sebagai perhelatan satu kali, melainkan terus berkembang menjadi agenda kebudayaan tahunan yang mampu menjaga keberlangsungan ekosistem teater di Kabupaten Tuban.

"Harapan kami sangat jelas, semoga di tahun-tahun berikutnya Festival Tiwikrama bisa terus terselenggara dan menjadi agenda tahunan kebanggaan Kabupaten Tuban. Kontinuitas ini sangat penting agar dari tahun ke tahun, generasi-generasi selanjutnya selalu memiliki 'rumah' untuk merawat proses kreatif mereka. Karena dari panggung yang kita hidupkan secara berkesinambungan ini, kelak akan lahir para pemimpin dan pemikir masa depan," pungkasnya.

Melalui Festival Teater Pemuda Tuban 2026, Tiwikrama Foundation berupaya menghadirkan panggung yang tidak hanya merayakan karya seni, tetapi juga membuka ruang bagi tumbuhnya keberanian, kreativitas, dan daya kritis generasi muda sebagai bagian dari pembangunan kebudayaan di Kabupaten Tuban. (yav)

comments powered by Disqus