Lomba Tanduk Semanding, Lestarikan Tradisi di Tengah Generasi yang Terus Berubah. (ist)

Saat Tradisi Tanduk Dihidupkan, 21 Modin Semanding Adu Kepiawaian Ujub Donga Badhe Mantu

Tubankab – Bagi para modin di Semanding, tanduk bukan sekadar rangkaian kata dalam prosesi pernikahan. Tradisi itu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, sebanyak 21 modin se-Kecamatan Semanding berkumpul dalam Lomba Tanduk/Ujub Donga Badhe Mantu di halaman Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Semanding, Rabu (19/8).

Selain menjadi ajang adu kepiawaian, kegiatan tersebut sekaligus menjadi upaya nguri-uri atau melestarikan tradisi lokal masyarakat Tuban, khususnya tanduk atau ujub donga badhe mantu yang selama ini menjadi bagian dari prosesi adat.

Seiring dengan itu, perlombaan juga menjadi ruang untuk mempererat guyub rukun antarmodin se-Kecamatan Semanding. Karena itu, penyelenggara berharap kegiatan tersebut dapat masuk dalam agenda Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) Kecamatan Semanding pada tahun berikutnya dan selanjutnya dikembangkan hingga tingkat Kabupaten Tuban.

Dalam sambutannya, Camat Semanding yang diwakili Kepala Subbagian Umum dan Kepegawaian Kecamatan Semanding, Mohamad Makali, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, Pemerintah Kecamatan Semanding siap memberikan dukungan agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan.

“Untuk tahun depan, kami siap memprakarsai dan mendorong kegiatan ini agar dapat menjadi bagian dari agenda PHBN selanjutnya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Semanding, Haris Rihandoko, menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta dan pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, keberhasilan kegiatan tidak semata-mata diukur dari siapa yang menjadi juara, tetapi juga dari semangat kebersamaan dan komitmen menjaga tradisi lokal.

“Bukan hanya juara yang menjadi pencapaian dalam kegiatan ini, tetapi bagaimana kita bisa guyub rukun sekaligus melestarikan adat dan tradisi lokal, khususnya tradisi tanduk/ujub donga badhe mantu,” ungkapnya.

Untuk menentukan pemenang, penilaian dilakukan berdasarkan tiga kategori utama, yakni ketepatan dan runtutan tanduk, penggunaan bahasa, serta sikap atau penampilan dan intonasi. Sementara itu, untuk menjaga objektivitas penilaian, panitia menghadirkan tiga juri, yakni Lantip, Ridho, dan Adhi Sutowo.

Setelah melalui seluruh tahapan penilaian, Lasmaji, Modin Genaharjo, berhasil meraih juara pertama. Selanjutnya, posisi kedua ditempati Eko Wijiyanto, Modin Gedongombo, sedangkan juara ketiga diraih Damar, Modin Tlogopule.

Di tengah perlombaan tersebut, suasana juga diwarnai canda dan tawa para peserta. Keakraban itu menunjukkan bahwa di balik tugas para modin sebagai pelayan masyarakat, terdapat kebersamaan yang tetap terjaga ketika mereka berkumpul dalam suasana yang lebih santai.

Menariknya, kebersamaan tersebut berlanjut setelah perlombaan. Hadiah utama berupa seekor kambing tidak hanya diberikan sebagai penghargaan kepada pemenang. Setelah seluruh rangkaian lomba dan penilaian selesai, kambing itu disembelih di lingkungan KUA Kecamatan Semanding untuk kemudian dimasak dan dinikmati bersama para peserta serta pihak yang hadir.

Dengan demikian, makan bersama menjadi penutup yang semakin mengakrabkan para peserta. Hadiah utama tersebut pun akhirnya menjadi bagian dari kebersamaan, karena dapat dinikmati bersama dalam suasana kekeluargaan.

Melalui kegiatan tersebut, tradisi tanduk/Ujub Donga Badhe Mantu diharapkan tidak berhenti sebagai materi perlombaan. Lebih dari itu, tradisi tersebut diharapkan terus dikenalkan, dijaga, dan diwariskan kepada generasi berikutnya sehingga tetap hidup dalam kehidupan masyarakat Tuban serta mendapat ruang dalam kegiatan kebudayaan di tingkat kecamatan maupun kabupaten. (yeni dh/yav)

comments powered by Disqus