Peluncuran introduksi genetik Red Brahman untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas ternak Tuban. (ist)

Tuban Siapkan 810 Dosis Genetik Red Brahman, Targetkan Lahirkan Pedet Berkualitas

Tubankab – Kabupaten Tuban terus mendorong inovasi di sektor peternakan melalui program introduksi genetik Sapi Red Brahman menggunakan metode Inseminasi Buatan (IB). Program yang diluncurkan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP2P) Kabupaten Tuban ini diarahkan untuk menjadikan Tuban sebagai wilayah percontohan (pilot project) introduksi genetik Sapi Red Brahman di Indonesia.

Kepala DKP2P Kabupaten Tuban Eko Julianto menyampaikan, program tersebut tidak sekadar memperkenalkan genetik baru kepada peternak, tetapi juga menjadi langkah inovatif untuk membangun sistem pengembangan ternak yang terukur, terdokumentasi, dan berbasis data.

“Program ini kami desain sebagai pilot project nasional. Jadi, bukan hanya bagaimana menghasilkan keturunan Red Brahman, tetapi bagaimana seluruh prosesnya tercatat dan dapat diukur, mulai dari keberhasilan inseminasi, kebuntingan, kelahiran, pertumbuhan pedet, performa reproduksi betina, hingga pertumbuhan pejantan sampai umur potong,” ungkapnya, Rabu (19/8).

Pemilihan sapi Red Brahman, jelasnya, merupakan salah satu rumpun Bos indicus yang memiliki performa baik di daerah tropis. Karena itu, karakteristik tersebut dinilai berpotensi menjadi alternatif pengembangan genetik sapi di Indonesia, khususnya untuk mendukung peningkatan produktivitas peternakan rakyat.

Melalui pendekatan berbasis data tersebut, program ini diharapkan menghasilkan informasi mengenai kesesuaian genetik Red Brahman dengan kondisi sapi lokal maupun hasil persilangan. Selanjutnya, data tersebut akan menjadi dasar evaluasi sebelum program dikembangkan dalam skala lebih luas.

Peluncuran program Introduksi Red Brahman ditandai dengan penyerahan simbolis straw (semen beku) Red Brahman. Pada tahap awal, sebanyak 810 dosis straw ditargetkan disalurkan melalui 79 petugas IB yang tersebar di 20 kecamatan di Kabupaten Tuban.

Lebih lanjut, program ini tidak berhenti pada proses IB. Setelah inseminasi dilakukan, seluruh tahapan akan terus dimonitor agar data yang diperoleh lengkap. Untuk itu, DKP2P Tuban akan melakukan monitoring secara berkelanjutan.

Pada November 2026, DKP2P Tuban akan melaksanakan GERTAK PKB (Gerakan Serentak Pemeriksaan Kebuntingan). Adapun target Conception Rate (CR) ditetapkan pada kisaran 60–70 persen dengan tetap mempertimbangkan kondisi lapangan dan manajemen pemeliharaan ternak.

Selanjutnya, pada Mei–Juli 2027, dilakukan monitoring kelahiran yang mencakup jumlah pedet lahir hidup, kelahiran mati, berat lahir, jenis kelamin, hingga kondisi induk setelah melahirkan. Tahapan ini penting untuk memastikan tingkat keamanan dan kesesuaian penggunaan genetik Red Brahman pada sapi betina lokal maupun hasil persilangan.

Puncak tahap awal program akan ditandai dengan Panen Pedet Red Brahman pada 17 Agustus 2027, tepat satu tahun setelah peluncuran program. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk melihat secara langsung hasil introduksi genetik yang telah dilakukan sejak 2026.

“Panen pedet serentak ini akan menjadi salah satu titik penting untuk melihat hasil program. Setelah itu, monitoring tidak berhenti. Sapi muda akan terus dipantau pada 2028 hingga 2029,” terangnya.

Dengan pemantauan tersebut, sapi muda akan menghasilkan data lanjutan mengenai pertumbuhan dan performa ternak. Seluruh data yang terkumpul kemudian menjadi bahan evaluasi sekaligus dasar penyusunan kebijakan pengembangan dan penguatan genetik sapi di Kabupaten Tuban.

Inovasi tersebut merupakan bagian dari upaya DKP2P Tuban membangun peternakan yang semakin modern dan adaptif terhadap perkembangan teknologi serta kebutuhan peningkatan produktivitas.

“Harapannya, Tuban tidak hanya menjadi daerah yang menghasilkan ternak, tetapi juga menjadi daerah yang menghasilkan data dan model pengembangan peternakan yang dapat menjadi rujukan bagi daerah lain,” pungkasnya. (ags/yav)

comments powered by Disqus