Pengunjung mengikuti Museum Passport Stamp Challenge sambil menjelajahi koleksi Museum Kambang Putih. (ist)

Usung Tema Kakawin, Night at The Museum Hadirkan Pengalaman Budaya yang Interaktif dan Berkesan

  • 03 August 2026 15:30
  • Yavid
  • Umum,
  • 29

Tubankab – Saat malam mulai turun di Museum Kambang Putih, sejarah tak lagi tersimpan diam di balik etalase. Cahaya, musik, seni, dan interaksi pengunjung menghidupkan kembali jejak peradaban dalam balutan Night at The Museum 2026 bertajuk Kakawin yang digelar selama dua hari, Sabtu–Minggu (1–2/8).

Lebih dari sekadar rangkaian hiburan dan wisata edukasi, kegiatan ini juga berperan sebagai benang merah yang menghubungkan seluruh aktivitas yang disajikan kepada pengunjung. Tema tersebut dimaknai bukan hanya sebagai karya sastra Jawa Kuno, tetapi juga simbol perjalanan peradaban yang terus ditulis oleh setiap generasi.

Jika pada masa lalu kisah-kisah besar ditorehkan melalui aksara pada daun lontar, kini kakawin hadir melalui langkah, cahaya, bunyi, karya, dan perjumpaan antarmanusia di ruang museum. Melalui pendekatan tersebut, Museum Kambang Putih ingin menghadirkan pengalaman yang lebih dekat dan relevan bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Terkait pagelaran tersebut, Ketua Panitia sekaligus Pengarah Kreatif Night at The Museum: Kakawin, Fuady Kresna, menjelaskan tema Kakawin dipilih untuk mengajak masyarakat melihat museum sebagai ruang yang hidup dan terus berkembang mengikuti zamannya.

"Kakawin kami maknai sebagai simbol perjalanan peradaban yang terus ditulis oleh setiap generasi. Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan museum bukan hanya sebagai tempat menyimpan sejarah, tetapi juga sebagai ruang yang memungkinkan masyarakat berinteraksi, belajar, dan menciptakan pengalaman budaya bersama," ujarnya saat dikonfirmasi melalui telepon, Senin (3/8).

Lebih lanjut, Night at The Museum mengusung konsep pengalaman budaya pada malam hari yang mengajak masyarakat menikmati museum dengan cara yang berbeda. Selama kegiatan berlangsung, Museum Kambang Putih bertransformasi menjadi ruang eksplorasi yang menghadirkan perpaduan antara sejarah, seni, permainan, olahraga, dan kreativitas.

Menurut Fuady, konsep museum malam hari menjadi salah satu pendekatan yang terus dikembangkan untuk menghadirkan pengalaman belajar sejarah yang lebih dekat, interaktif, dan relevan bagi generasi muda.

Sementara itu, Fuady yang juga menjadi Pengarah Kreatif Night at The Museum: Kakawin mengatakan rangkaian kegiatan dirancang untuk menghadirkan pengalaman budaya yang interaktif bagi pengunjung. Beragam aktivitas disuguhkan, mulai dari video mapping, tur museum malam bersama Cung Ndhuk Tuban, Museum Passport Stamp Challenge, Museum Night Run x Tulari, pertunjukan seni dan musik, hingga coffee bar.

Selain menghadirkan beragam kegiatan, setiap rangkaian acara juga dirancang sebagai bagian dari sebuah narasi besar yang menghubungkan masyarakat dengan warisan budaya dan identitas daerah.

"Pengunjung tidak hanya menikmati setiap aktivitas, tetapi juga diajak menjadi bagian dari kisah yang sedang ditulis bersama, yaitu kisah tentang warisan budaya, identitas, dan masa depan yang tumbuh dari akar sejarah Tuban," ungkapnya.

Sementara itu, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi lintas generasi sekaligus memperkuat peran museum sebagai pusat edukasi, kreativitas, dan pelestarian budaya. Di samping itu, Night at The Museum juga menjadi upaya menghadirkan museum sebagai ruang publik yang lebih inklusif, dinamis, dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Museum Kambang Putih mengajak masyarakat, komunitas, pelajar, keluarga, hingga wisatawan untuk menikmati pengalaman yang berbeda dalam mengenal sejarah dan budaya Kabupaten Tuban.

"Karena setiap langkah adalah bait, setiap cahaya adalah aksara, dan setiap pengunjung adalah bagian dari Kakawin yang sedang ditulis bersama," pungkas Fuady. (yav)

comments powered by Disqus