Bangun Nalar Kritis Siswa, Disdik dan INOVASI Jatim Latih Guru dengan Strategi Membaca Kritis
- 09 October 2026 14:39
- Yavid
- Kegiatan Pemerintahan,
- 20
Tubankab – Memahami bacaan bukan sekadar menemukan jawaban dalam teks. Siswa juga perlu mampu menghubungkan informasi, menunjukkan bukti, dan menjelaskan alasan atas kesimpulan yang mereka ambil. Kemampuan inilah yang menjadi fokus Training of Trainer Pilot Peningkatan Kemampuan Memahami Bacaan yang digelar Pemkab Tuban bersama INOVASI Jawa Timur di Kantor Dinas Pendidikan Tuban, Jumat (9/10).
Pelatihan tersebut melibatkan kepala sekolah dan perwakilan guru dari masing-masing sekolah dalam gugus Kecamatan Jenu dan Merakurak. Kegiatan ini menjadi bagian dari pendampingan pendidikan di Tuban yang diarahkan pada perbaikan praktik pembelajaran, khususnya dalam mengembangkan kemampuan literasi dan berpikir kritis siswa.
Education Coordinator INOVASI Jawa Timur, Anhar Putra Iswanto, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari kemitraan pemerintah Australia dan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan mutu pendidikan dasar, baik di sekolah maupun madrasah.
Di Kabupaten Tuban, pendampingan INOVASI mencakup sejumlah bidang, mulai dari penguatan literasi dan numerasi, Pembelajaran Mendalam, Kurikulum Berbasis Cinta, hingga Budaya Sekolah Aman dan Menyenangkan. Pemetaan kondisi pendidikan juga menjadi salah satu bahan evaluasi untuk menentukan langkah perbaikan pembelajaran.
Untuk tujuan tersebut, para guru dibekali tujuh sesi materi, mulai dari strategi membaca kritis, penyusunan pertanyaan bertingkat, penggunaan bukti dan alasan dalam dialog, hingga penarikan kesimpulan dari bacaan. Materi juga mencakup evaluasi dan refleksi bacaan, dialog berbasis teks, serta teknik fasilitasi dan pendampingan agar pendekatan tersebut dapat diterapkan di sekolah masing-masing.
Melalui pendekatan ini, guru diharapkan tidak berhenti pada kegiatan membaca dan menjawab pertanyaan. Siswa perlu dibimbing untuk menemukan informasi yang relevan, menghubungkan isi bacaan, serta menyampaikan alasan yang mendukung pemikirannya. Dengan begitu, proses belajar memberi ruang lebih besar bagi siswa untuk aktif mengolah informasi, bukan sekadar menghafal isi materi.
Kepala Bidang Pengelolaan Pendidikan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Tuban, Mokhamad Nurdin, menekankan pentingnya penerapan materi pelatihan di kelas. Pembelajaran, menurut dia, perlu mengarah pada kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills), bukan hanya menghafal atau menyebutkan fakta.
Pendekatan tersebut juga berkaitan dengan persiapan menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA). Kemampuan memahami informasi, mengolah bacaan, dan menarik kesimpulan merupakan bagian penting dalam proses belajar. Karena itu, penguatan pemahaman bacaan diharapkan dapat mendukung peningkatan hasil TKA di sekolah-sekolah Kabupaten Tuban pada tahun berikutnya.
Nurdin juga menekankan perlunya pola pikir bertumbuh (growth mindset) bagi para pendidik. Perkembangan zaman dan karakter generasi Alfa menuntut guru terus belajar, menyesuaikan pendekatan mengajar, serta memanfaatkan sumber belajar yang semakin beragam, termasuk teknologi digital dan kecerdasan buatan. Selain itu, guru diharapkan menjadi teladan dalam kedisiplinan dan kebiasaan membaca.
Agar penerapan materi tidak berhenti setelah pelatihan, guru diminta mempraktikkan strategi yang dipelajari di sekolah masing-masing dan membagikannya kepada rekan sejawat melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) atau forum sejenis. Uji coba program di Jawa Timur direncanakan mencakup dua gugus dengan total 15 sekolah, dengan monitoring dan pendampingan hingga Maret 2027.
Melalui rangkaian tersebut, Pemkab Tuban dan INOVASI berharap strategi memahami bacaan berbasis pertanyaan dan dialog dapat diterapkan secara berkelanjutan. Penerapannya di kelas menjadi bagian penting untuk membantu siswa memahami teks, berpikir kritis, dan menyampaikan gagasan dengan alasan yang jelas. (yav)










