Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI melihat langsung praktik Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah Tuban. (yavid)

Kemenag RI dan DFAT Tinjau Praktik Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah Tuban, Ini Hasilnya

Tubankab – Penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) mulai terlihat dalam praktik pembelajaran di sejumlah madrasah di Kabupaten Tuban. Hal itu menjadi perhatian Kementerian Agama Republik Indonesia dan Kedutaan Besar Australia saat melihat langsung proses pembelajaran sekaligus melakukan refleksi atas pendampingan program tersebut di Tuban, Jumat (28/6).

Kegiatan Joint Visit dan Refleksi Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta tersebut diawali dengan kunjungan ke MI Negeri 1 Tuban dan MI Hidayatun Najah. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan refleksi implementasi KBC yang melibatkan seluruh pihak terkait di MAN 1 Tuban.

Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Prof. Dr. Amien Suyitno, M.Ag., Counsellor for Knowledge, Innovation, Humanitarian Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Paula Gerhardt, Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi SDM Dr. Mastuki, M.Ag., Direktur INOVASI Sri Rezki Widuri, serta jajaran Kementerian Agama dan tim INOVASI.

Dalam sesi refleksi, Amien Suyitno menekankan bahwa KBC tidak sekadar menjadi konsep yang harus dihafalkan peserta didik. Menurutnya, hal yang lebih penting ialah bagaimana nilai-nilai KBC diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan madrasah.

“Yang paling penting adalah action-nya, implementasinya,” ujar Amien.

Karena itu, ia menilai sebuah madrasah tetap dapat menerapkan nilai KBC meskipun tidak secara formal menggunakan istilah tersebut. Lingkungan yang asri, hubungan guru yang saling menyayangi, tidak adanya bullying, serta kepedulian antarsesama merupakan bentuk penerapan KBC dalam praktik.

Selain itu, Amien menegaskan bahwa KBC bukan kurikulum baru dalam pengertian formal. Nilai-nilai tersebut perlu diinternalisasikan melalui media, metode, dan inovasi pembelajaran yang sesuai dengan usia serta jenjang pendidikan peserta didik.

Ia mencontohkan penggunaan lagu dan permainan dalam proses pembelajaran yang ditemuinya saat kunjungan ke madrasah. Pendekatan tersebut dinilai relevan karena materi pembelajaran disampaikan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik anak.

“Inti dari refleksi ini adalah memastikan bahwa kebutuhan anak-anak terjawab secara relevan sesuai umur dan jenjang pendidikan mereka,” katanya.

Sejalan dengan itu, Paula Gerhardt mengapresiasi dedikasi guru dan kepala madrasah dalam menerapkan KBC. Ia menilai pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, empati, rasa hormat, dan kepedulian terhadap sesama.

“Saya sangat terkesan oleh dedikasi para guru dan kepala madrasah dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif, inklusif, dan berpusat pada kebutuhan murid,” ujar Paula.

Menurut Paula, Pemerintah Australia bangga dapat bermitra dengan Kementerian Agama melalui program INOVASI untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan madrasah. Praktik baik yang muncul dari madrasah seperti MI Hidayatun Najah, lanjutnya, dapat menjadi masukan bagi pengembangan kebijakan pendidikan ke depan.

Sementara itu, mewakili Kepala Kantor Kemenag Tuban, Kasi Pendidikan Madrasah (Pendma) menyampaikan apresiasi kepada Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI, Kedutaan Besar Australia, serta tim INOVASI yang telah mendampingi 10 madrasah piloting di Kabupaten Tuban selama lebih dari enam bulan.

Pendampingan tersebut telah membawa perubahan, terutama pada pola pikir guru dalam menjalankan proses pendidikan. Guru didorong untuk melakukan perubahan terlebih dahulu sehingga dapat membentuk peserta didik yang lebih baik, berkarakter mulia, beriman, berilmu luas, dan beramal saleh.

Insyaallah sudah ada perubahannya, perubahan mindset-nya, termasuk bagaimana Bapak/Ibu guru yang seharusnya berubah terlebih dahulu untuk kemudian menjadikan anak-anak kita juga ikut berubah,” ungkapnya.

Atas perkembangan tersebut, perwakilan Kemenag Tuban berharap praktik baik KBC dapat ditularkan ke madrasah lain di Kabupaten Tuban. Ia juga meminta arahan, bimbingan, dan evaluasi dari seluruh pihak untuk perbaikan program ke depan.

Dengan demikian, refleksi implementasi KBC di Tuban menjadi ruang untuk melihat sejauh mana nilai-nilai tersebut telah hadir dalam keseharian madrasah. Evaluasi juga diharapkan melibatkan peserta didik dan orang tua sehingga dampak penerapan KBC dapat dilihat secara lebih utuh. (yav)

comments powered by Disqus