Workshop Budaya Sekolah Aman dan Nyaman diikuti kepala sekolah dan guru SD se-Kecamatan Semanding sebagai persiapan Tahun Ajaran 2026/2027. (ist)

Manfaatkan Libur Sekolah, K3S Semanding Siapkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Tubankab – Masa libur sekolah tidak selalu identik dengan berhentinya aktivitas belajar. Di Kecamatan Semanding, momen tersebut justru dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas guru dan kepala sekolah agar siap menyambut tahun ajaran baru dengan menghadirkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berpihak kepada peserta didik.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pengimbasan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) yang diselenggarakan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Semanding di UPT SD Negeri Gedongombo pada 24 hingga 26 Juni 2026.

Kegiatan ini bekerja sama dengan Tim Inovasi Jawa Timur yang menghadirkan Fasilitator Daerah Inovasi Jawa Timur, Cahyadi Widi Wahyono, S.IP., M.KP., dan Kuntiani, S.Pd.SD. Sebanyak 124 peserta mengikuti pelatihan intensif yang terdiri atas 28 kepala sekolah, 48 guru kelas rendah, dan 48 guru kelas tinggi dari seluruh SD di Kecamatan Semanding.

Ketua K3S Kecamatan Semanding, Dra. Suatmirah, M.MPd., mengatakan kegiatan tersebut merupakan langkah strategis dalam menyambut Tahun Ajaran 2026/2027 sekaligus tindak lanjut dari pengimbasan BSAN yang sebelumnya dilaksanakan di tingkat kabupaten.

"Kami ingin memastikan ketika siswa kembali ke sekolah, mereka disambut lingkungan yang aman secara fisik, psikis, dan sosial. Guru dan kepala sekolah harus siap menjadi garda terdepan dalam menciptakan budaya positif tersebut," ujar Suatmirah, Kamis (25/6).

Selama tiga hari, peserta mendapatkan materi sekaligus praktik mengenai Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Materi yang diberikan meliputi growth mindset, manajemen kelas positif, strategi pencegahan perundungan, serta penguatan karakter siswa. Pelatihan dikemas secara partisipatif agar setiap peserta mampu menyusun rencana aksi yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing.

Sementara itu, Fasilitator Daerah Inovasi Jawa Timur, Cahyadi Widi Wahyono, menegaskan bahwa budaya sekolah tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui pembiasaan, proses pembelajaran, dan keteladanan dari guru maupun kepala sekolah.

"Sekolah yang aman membuat anak berani bertanya, berani mencoba, dan berani berproses. Tanpa rasa aman, proses belajar akan terhambat," jelasnya.

Senada dengan itu, Kuntiani menambahkan bahwa perubahan budaya sekolah memerlukan komitmen dan konsistensi seluruh warga sekolah agar dapat berjalan secara berkelanjutan.

"Pengimbasan merupakan langkah awal untuk melancarkan sinergi yang baik dari catur pusat pendidikan. Harapannya, setiap guru pulang dengan rencana aksi konkret yang bisa segera dijalankan di sekolahnya," katanya.

Antusiasme peserta juga terlihat selama pelatihan berlangsung. Salah satunya disampaikan Mei Puji Viranti, guru UPT SD Negeri Sambongrejo 2, yang mengaku memperoleh banyak strategi praktis untuk diterapkan di kelas.

"Dari pengimbasan BSAN ini saya mendapat banyak strategi praktis untuk membuat kelas lebih aman dan nyaman. Libur kali ini bukan untuk tidur, tetapi membuat kita jadi produktif dan siap menyambut tahun ajaran baru dengan semangat baru!" jelasnya.

Hal serupa disampaikan Yoyok Eko Budianto, guru UPT SD Negeri Jadi 3 Semanding. Ia mengaku termotivasi untuk segera mengimplementasikan materi yang diperoleh, terutama terkait pemenuhan hak anak untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman selama mengikuti proses pembelajaran.

Kegiatan ditutup dengan penyusunan rencana tindak lanjut oleh masing-masing sekolah. Melalui program ini, K3S Kecamatan Semanding menargetkan budaya sekolah aman dan nyaman mulai terimplementasi di seluruh satuan pendidikan dasar pada Tahun Ajaran 2026/2027. Kolaborasi antara pemerintah daerah, kepala sekolah, dan guru diharapkan menjadi kunci keberhasilan program tersebut. (yav)

comments powered by Disqus