Peserta dan narasumber OJT Kegawatdaruratan Ibu dan Anak berfoto bersama di RSUD dr. R. Koesma Tuban. (ist)

OJT Kegawatdaruratan Ibu dan Anak, Dinkes P2KB Bekali Nakes Kemampuan Tangani Kasus Kritis

Tubankab – Kecepatan dan ketepatan penanganan medis menjadi faktor penting dalam upaya menekan angka kematian ibu dan bayi. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) menggelar On the Job Training (OJT) Kegawatdaruratan Ibu dan Anak pada 12–14 Oktober 2026 di RSUD dr. R. Koesma Tuban.

Pelatihan ini menyasar peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan tenaga kesehatan (nakes), terutama dalam mengenali tanda bahaya sejak dini serta memberikan penanganan awal pada kasus kegawatdaruratan maternal dan neonatal.

Plt. Kepala Dinkes P2KB Kabupaten Tuban, drg. Roikan, M.H., mengatakan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan di lini terdepan menjadi salah satu langkah penting untuk menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).

Dibandingkan tahun sebelumnya, AKI dan AKB di Kabupaten Tuban menunjukkan tren penurunan. Capaian ini perlu dijaga melalui peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dalam mendeteksi tanda bahaya sejak dini, memberikan penanganan awal secara tepat, serta memastikan proses rujukan berjalan cepat.

“Pelaksanaan OJT ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan deteksi dini tanda bahaya pada ibu hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir, hingga anak. Selain itu, nakes dilatih agar mampu melakukan stabilisasi awal pasien dengan cepat dan tepat sebelum dirujuk,” ujar drg. Roikan.

Dukungan terhadap pelatihan ini juga datang dari RSUD dr. R. Koesma Tuban sebagai tempat praktik sekaligus penyedia narasumber dokter spesialis.

Sementara itu, Plt. Direktur RSUD dr. R. Koesma Tuban, dr. Abdul Rochman, menyatakan pihaknya mendukung peningkatan kompetensi tenaga kesehatan melalui penyediaan tempat praktik dan narasumber dokter spesialis. Pendampingan ini diharapkan dapat mengasah keterampilan klinis peserta, khususnya dalam mendeteksi tanda bahaya dan menstabilkan kondisi pasien sebelum dirujuk.

“Melalui OJT ini, kami berkomitmen mendampingi tenaga kesehatan agar semakin terampil dan sigap dalam menangani kasus kegawatdaruratan ibu dan anak,” ujar dr. Abdul Rochman.

Pelatihan ini melibatkan sembilan dokter umum dan sembilan penanggung jawab kesehatan ibu dan anak (KIA) dari delapan puskesmas, yakni Puskesmas Tuban, Compreng, Klotok, Parengan, Prambon Wetan, Merakurak, Temandang, dan Kebonharjo. Selama kegiatan, peserta mendapat pendampingan langsung dari tim dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Obgyn) serta spesialis anak RSUD dr. R. Koesma Tuban.

Tak hanya mengasah keterampilan teknis, OJT ini juga diarahkan untuk meningkatkan koordinasi antartenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan, terutama dalam sistem rujukan. Dengan deteksi dini, stabilisasi pasien, dan proses rujukan yang tepat, penanganan kasus kegawatdaruratan diharapkan berlangsung lebih cepat sehingga risiko kematian ibu dan bayi dapat ditekan. (aris/yav)

comments powered by Disqus