Satu-satunya Desa di TSNC, Beji Bawa Kisah Rondho Kuning Sendang Jomblang ke Panggung Kabupaten
- 30 August 2026 17:48
- Yavid
- Kegiatan Pemerintahan,
- 91
Tubankab – Kreativitas warga Desa Beji, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, mendapat ruang di panggung kabupaten melalui Tuban Specta Night Carnival (TSNC) 2026. Dalam gelaran tersebut, Desa Beji menjadi satu-satunya desa yang ambil bagian dengan membawa cerita rakyat lokal “Rondho Kuning Sendang Jomblang”.
Cerita tersebut dikemas dalam pertunjukan kolosal yang melibatkan warga Desa Beji dari berbagai kelompok usia. Selain menjadi bagian dari kemeriahan TSNC 2026, penampilan itu sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan cerita dan potensi budaya yang tumbuh di lingkungan mereka.
Kepala Desa Beji, Zainul Arifin, mengatakan keikutsertaan dalam TSNC 2026 berawal dari keinginan untuk turut memeriahkan agenda kabupaten sekaligus membawa kreativitas masyarakat Beji ke panggung yang lebih luas.
“Selama ini kreativitas masyarakat Beji lebih banyak sebatas tampil di tingkat desa atau kecamatan. Karena itu, kami ingin berpartisipasi dan menyemarakkan TSNC Tuban 2026,” ujarnya kepada reporter Tubankab, Minggu (29/8).
Semula, lanjut Zainul, pemerintah desa hanya ingin memberikan partisipasi terbaik dalam memeriahkan acara. Namun, setelah mengetahui Beji menjadi satu-satunya desa yang ikut dalam TSNC, semangat untuk menghadirkan penampilan terbaik semakin menguat.
Karena itu, penampilan tersebut tidak semata-mata diarahkan sebagai hiburan. Zainul berharap keikutsertaan Beji dapat menginspirasi desa lain untuk berani menampilkan potensi dan kreativitas masyarakatnya dalam agenda tingkat kabupaten.
“Pertama tentu bernilai hiburan dan semarak. Kedua, semoga bisa menjadi inspirasi bagi desa-desa lainnya agar turut serta menyemarakkan event kabupaten yang akbar seperti ini,” tuturnya.
Untuk mewujudkan penampilan tersebut, persiapan dilakukan melalui proses yang cukup panjang. Ketua Panitia Karnaval Desa Beji, Jamilatun Nikmah, menjelaskan tahapan persiapan mencakup pembentukan kepanitiaan, penyusunan konsep, pembagian tugas, persiapan kostum dan properti, hingga latihan serta gladi bersama.
Menariknya, proses tersebut tidak hanya melibatkan warga yang tampil di atas panggung. Anak-anak, remaja, orang tua, tokoh masyarakat, pelaku seni, hingga pemuda turut mengambil bagian sesuai peran masing-masing.
“Semangat gotong royong menjadi kekuatan utama. Ada yang membantu membuat properti, menyiapkan kostum, mendukung konsumsi, mengatur peserta, hingga membantu kelancaran teknis di lapangan,” jelasnya.
Meski demikian, menyatukan waktu, tenaga, dan gagasan dari banyak warga dengan kesibukan masing-masing menjadi tantangan tersendiri. Selain itu, setiap bagian pertunjukan harus dipersiapkan dengan matang, mulai dari kostum, properti, koreografi, hingga kekompakan peserta.
Namun, berbagai kendala tersebut justru menjadi bagian dari proses yang mempererat kebersamaan warga.
“Bagi kami, yang terpenting bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga bagaimana proses persiapan ini mampu mempererat silaturahmi dan membangun rasa memiliki masyarakat terhadap Desa Beji,” katanya.
Sementara itu, sutradara penampilan, Fatkhul Niam, mengatakan pemilihan cerita “Rondho Kuning Sendang Jomblang” merupakan upaya memperkenalkan budaya dan potensi lokal Desa Beji kepada masyarakat yang lebih luas.
“Harapannya ini bisa menjadi promosi budaya dan potensi lokal yang ada di Desa Beji. Kami kemas sebaik mungkin dengan seluruh pemeran merupakan warga asli Beji,” ujarnya.
Dalam cerita tersebut, sosok Nyai Rondho Kuning digambarkan sebagai perempuan yang tangguh, mandiri, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi ujian kehidupan.
Salah satu bagian yang menarik dalam pertunjukan terjadi ketika dua pangeran berusaha mempersunting Nyai Rondho Kuning. Penolakan itu kemudian memicu pertikaian hingga Nyai Rondho Kuning memilih berlari dan menepi ke Sendang Suci Jomblang.
Ketika kedua pangeran berusaha memasuki sendang, mereka mendapat perlawanan dari siluman ular dan “begejil” yang disebut sebagai penunggu sendang.
Menurut Niam, perpaduan cerita lokal, kreativitas kostum dan properti, serta kekompakan warga menjadi kekuatan penampilan Beji. Lebih dari sekadar pertunjukan, seluruh unsur tersebut menjadi representasi identitas masyarakat Desa Beji yang dibawa ke ruang pertunjukan tingkat kabupaten.
Berangkat dari pengalaman tersebut, Kepala Desa Beji berharap momentum TSNC 2026 dapat menjadi pemantik semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat. Pada saat yang sama, keterlibatan warga dalam agenda budaya juga diharapkan membuka ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan bakat dan kreativitas, khususnya di bidang seni dan budaya.
“Semoga momen ini menjadi semangat dan pelecut kebersamaan serta gotong royong warga Desa Beji. Semoga juga menjadi ajang mengasah bakat dan kreativitas pemuda dan masyarakat, terlebih ada anak-anak yang turut tampil dalam bidang seni dan budaya,” pungkasnya. (kdg/yav)










