Warga mengarak hasil bumi dalam prosesi Sedekah Bumi Mbah Goleyo di Desa Bandungrejo, Kecamatan Plumpang, sebagai wujud syukur dan pelestarian tradisi leluhur. (ist)

Sedekah Bumi Mbah Goleyo, Warga Bandungrejo Rawat Tradisi dan Telusuri Sejarah Leluhur

Tubankab – Pemerintah Desa Bandungrejo, Kecamatan Plumpang, bersama Komunitas Sabhyanadipala menggelar Sedekah Bumi Mbah Goleyo di tepian Bengawan Solo, Senin (19/10). Kegiatan ini tidak hanya menjadi ungkapan rasa syukur, tetapi juga momentum untuk merawat tradisi sekaligus mengenalkan sejarah desa kepada generasi muda.

Rangkaian kegiatan diawali dengan tahlil dan doa bersama untuk mendoakan para leluhur, khususnya Mbah Goleyo yang diyakini sebagai cikal bakal Desa Bandungrejo. Warga mengikuti prosesi tersebut dengan khidmat sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu.

Kepala Desa Bandungrejo, Slamet, mengapresiasi penyelenggaraan Sedekah Bumi Mbah Goleyo dengan konsep yang lebih kaya, tanpa meninggalkan esensi tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Kami sangat mengapresiasi para pemikir dan penggagas acara ini, khususnya teman-teman Sabhyanadipala. Tradisi tahlil tetap kita istikamahkan, tidak ada ritual yang dihilangkan, namun kemasannya kita perkaya,” ungkapnya.

Setelah doa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan prosesi larung hasil bumi di Bengawan Solo. Hasil bumi yang ditata menyerupai gunungan kecil dibawa menuju tepi sungai sebagai simbol rasa syukur atas hasil pertanian dan sumber penghidupan yang diberikan alam.

Selain prosesi adat, penyelenggaraan tahun ini juga diisi dengan bedah sejarah Desa Bandungrejo. Sesi tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenali kembali asal-usul desa dan sosok yang dihormati sebagai leluhur mereka.

Pemerhati sejarah dari Komunitas Sabhyanadipala, Ali Suyono, yang berasal dari Gresik, memaparkan hasil penelusuran sejarah mengenai sosok Mbah Goleyo. Berdasarkan penelusuran literatur yang disampaikannya, nama tersebut merujuk pada Raden Mas Haryo Pringgoloyo, yang disebut sebagai ahli strategi perang gerilya sekaligus bagian dari laskar Pangeran Diponegoro.

“Beliau adalah seorang ahli strategi perang gerilya sekaligus laskar Pangeran Diponegoro yang menyusuri Bengawan Solo ke arah timur untuk menghilangkan jejak agar tidak terdeteksi oleh pihak Belanda,” paparnya.

Melalui sesi tersebut, para tokoh masyarakat dan budayawan lokal turut mengulas kisah perjuangan serta nilai-nilai yang diwariskan kepada masyarakat Bandungrejo. Kegiatan ini diharapkan membantu generasi muda memahami sejarah desa dan menghargai identitas budaya yang tumbuh di lingkungannya.

Camat Plumpang, Saefiyudin, S.STP., M.AP., turut mengapresiasi inisiatif pemerintah desa dan masyarakat dalam mengemas tradisi dengan edukasi sejarah. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk menjaga kebudayaan sekaligus memperkenalkan akar sejarah kepada generasi penerus.

“Apa yang dilakukan oleh masyarakat Desa Bandungrejo hari ini adalah sebuah contoh nyata bagaimana sebuah desa merawat kebudayaannya dengan cara yang sangat cerdas dan bermartabat. Ini bukan sekadar ritual rutin, melainkan sebuah lompatan peradaban untuk desa,” jelasnya.

Ia juga menilai penyisipan bedah sejarah dalam rangkaian kegiatan adat dapat memperluas pemahaman generasi muda terhadap tradisi yang mereka warisi. Dengan mengenali sejarah dan nilai-nilai leluhur, generasi muda diharapkan tetap memiliki akar budaya di tengah perkembangan zaman.

“Menyisipkan bedah sejarah di tengah prosesi adat adalah hal yang luar biasa. Ini membuktikan bahwa tradisi kita tidak anti-intelektualitas. Justru, dengan memahami sejarah Mbah Goleyo, generasi muda kita akan memiliki akar yang kuat. Mereka boleh terbang tinggi meraih kemajuan zaman, tapi mereka tidak akan pernah lupa di bumi mana mereka berpijak dan air sungai mana yang telah membesarkan mereka. Saya berharap, model pelestarian budaya yang holistik seperti di Bandungrejo ini bisa menjadi inspirasi dan barometer bagi desa-desa lain di Kecamatan Plumpang,” pungkasnya.

Perpaduan doa bersama, prosesi larung, dan penelusuran sejarah menjadikan Sedekah Bumi Mbah Goleyo tidak hanya sebagai agenda adat tahunan, tetapi juga sarana pewarisan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat Desa Bandungrejo diharapkan terus merawat tradisi sekaligus menjaga ingatan kolektif tentang sejarah dan identitas desa. (sis jp/yav)

comments powered by Disqus