Tak Sekadar Rebus dan Goreng, UMKM Plumpang Sulap Bahan Lokal Jadi Kuliner Kekinian
- 07 October 2026 22:25
- Yavid
- Kegiatan Pemerintahan,
- 12
Tubankab – Pendopo Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Rabu (7/10), tak seperti biasanya. Ruangan yang kerap digunakan untuk kegiatan formal itu berubah menjadi dapur bersama. Aroma masakan menguar, sementara puluhan pelaku UMKM sibuk mengolah bahan pangan lokal menjadi aneka produk kuliner kekinian.
Suasana tersebut mewarnai hari kedua Pelatihan Kewirausahaan dengan tema “Pembuatan Produk Makanan Kekinian”. Para pelaku UMKM se-Kecamatan Plumpang mengikuti setiap tahapan praktik yang dipandu Chef Farikh Makhfud dari Indonesian Chef Association (ICA).
Mengenakan celemek, para peserta berkelompok di meja-meja yang telah dipenuhi berbagai bahan baku. Alih-alih hanya menyimak, mereka langsung mempraktikkan teknik pengolahan, berdiskusi, dan mencoba membuat sejumlah menu dengan bimbingan chef.
Di tengah praktik itu, Kepala Bidang UMKM dan Perdagangan Nindya Mawardhani Saefiyudin turut berbaur dengan peserta. Ia tidak hanya memantau dari sisi teknis, tetapi juga mendampingi dan berdiskusi bersama para pelaku usaha yang tengah mengolah adonan.
Kehadiran Nindya yang membaur bersama peserta membuat suasana pelatihan terasa lebih cair. Peserta pun leluasa bertanya dan bertukar pengalaman sembari menyelesaikan setiap tahapan pengolahan makanan.
Menurut Nindya, pendampingan terhadap UMKM tidak berhenti pada pelatihan teknis. Aspek legalitas, pengemasan, hingga pemasaran juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan agar produk yang dihasilkan dapat berkembang.
"Tugas kami di Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan tidak akan berhenti pada pelatihan teknis saja. Kami berkomitmen untuk terus mengawal mereka, mulai dari legalitas usaha perizinan seperti NIB dan sertifikasi halal, hingga strategi pengemasan dan pemasarannya. Gol kita jelas, UMKM Tuban harus berani tampil beda dan segera naik kelas merajai pasar yang lebih luas," jelas Nindya.
Sementara itu, materi yang diberikan Chef Farikh tidak berhenti pada resep semata. Bahan-bahan yang mudah dijumpai di lingkungan sekitar diolah dengan teknik berbeda sehingga menghasilkan produk dengan tampilan dan nilai jual yang lebih menarik.
Salah satunya jagung manis. Bahan yang selama ini lebih banyak diolah dengan cara direbus atau dibakar itu dibuat menjadi “Susu Jagung”. Peserta mempelajari tahapan pengolahan mulai dari menghaluskan jagung, menyaring, merebus, hingga mengemas produk.
Berikutnya, ada singkong parut yang diolah menjadi “Sanggar Air”. Adonan singkong diberi pewarna, diisi pisang, kemudian dibentuk dan dikukus. Setelah matang, kudapan itu disajikan dengan baluran kelapa parut kukus.
Tak kalah menarik, singkong, talas, dan fillet ikan diolah menjadi “Bitter Ballen”. Peserta belajar membuat adonan isi, membungkusnya dengan adonan singkong, melapisinya dengan tepung roti, kemudian menggorengnya hingga berwarna keemasan.
Bagi pencinta makanan manis, ada pula “Pondering”, donat berbahan dasar tepung ketan dan labu kuning. Adonan dibentuk menyerupai cincin bergelombang, digoreng, lalu diberi lapisan glaze sebagai sentuhan akhir.
Ragam olahan itu menunjukkan bahwa bahan pangan lokal tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang sama. Dengan pengolahan dan penyajian yang berbeda, jagung, singkong, talas, hingga labu kuning dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih dekat dengan selera pasar saat ini.
Selain membuka pilihan menu, pemanfaatan bahan lokal juga dapat menjadi cara bagi pelaku usaha untuk menekan biaya produksi sekaligus mengangkat potensi pangan daerah. Dari sana, produk rumahan memiliki peluang untuk dipasarkan lebih luas, baik melalui penjualan langsung maupun kanal digital.
Pengalaman itu pula yang dirasakan Wartuni, salah satu peserta dari Desa Sumberagung. Ia mengaku mendapat wawasan baru setelah melihat langsung bagaimana bahan pangan yang selama ini dianggap sederhana dapat diolah menjadi produk dengan tampilan berbeda.
"Saya benar-benar tak menyangka, bahan ndeso seperti singkong dan jagung yang biasanya cuma kami rebus atau goreng biasa, ternyata bisa disulap jadi jajanan mewah ala kafe. Cara buatnya juga gampang dipahami karena diajari langsung step-by-step oleh Chef ahlinya. Ini benar-benar membuka wawasan, insyaallah resep Bitter Ballen dan donat Pondering ini akan langsung saya coba untuk menu baru jualan saya," jelas Wartuni.
Dengan demikian, pelatihan dua hari tersebut tidak sekadar menjadi ruang belajar memasak. Lebih dari itu, para pelaku UMKM mendapat pengalaman untuk melihat bahan lokal dari sudut pandang berbeda, membaca selera pasar, serta mengembangkan produk yang bisa menjadi bagian dari usaha mereka.
Harapannya, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di Pendopo Kecamatan Plumpang. Setelah pelatihan usai, resep dan teknik yang dipelajari dapat diterapkan dalam usaha masing-masing sehingga lahir lebih banyak produk kuliner berbahan lokal yang memiliki nilai jual dan memberi manfaat bagi perekonomian keluarga. (sis jp/yav)










