Tekankan Pentingnya KYA, Wamen Nezar Patria: Perusahaan Perlu Kenali Agen AI
- 16 October 2026 17:25
- Yavid
- Berita Nasional,
- 11
Tubankab – Perkembangan agentic artificial intelligence (agentic AI) yang mampu memproses data dan mengambil keputusan secara mandiri menuntut perusahaan mengenali agen AI yang berinteraksi dengan pelanggan maupun sistem bisnisnya.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menekankan pentingnya pendekatan Know Your Agent (KYA) untuk mengantisipasi risiko penyalahgunaan data dan tindakan agen AI yang melampaui batas kewenangannya.
“Bukan lagi KYC, Know Your Customer, tapi harus ada KYA, Know Your Agent,” ujar Nezar dalam Hukum Online Executive Breakfast & Networking Session di Jakarta Pusat, Kamis (15/10/2026).
Nezar menjelaskan, perusahaan semakin banyak menggunakan agentic AI untuk membantu layanan pelanggan, transaksi, dan berbagai proses bisnis. Teknologi ini tidak hanya mengandalkan model AI generatif, tetapi juga dilengkapi algoritma dan otorisasi untuk memproses data serta menjalankan tindakan tertentu.
“Dengan mesin bisa membuat keputusan sendiri, risiko meningkat,” katanya.
Menurut Nezar, penggunaan agen AI perlu diikuti pemahaman mengenai identitas, kepemilikan, dan batas kewenangannya. Hal ini penting karena agen AI dapat berinteraksi dengan sistem perusahaan dan memproses data berdasarkan otorisasi yang diberikan.
“Kadang ada agentic AI yang mungkin dia akan mem -bypass sejumlah peraturan-peraturan ataupun regulasi yang dibuat ataupun batasan-batasan di dalam satu korporasi karena dia bisa bertindak,” ungkap Nezar.
Ia menilai, perusahaan perlu mengantisipasi risiko tersebut seiring meluasnya penggunaan agen AI, termasuk ketika teknologi ini digunakan untuk berinteraksi dengan pelanggan atau menjalankan transaksi.
“Karena nanti yang akan berhubungan dengan Bapak/Ibu sekalian bukan lagi orang, ada juga agentic AI lain yang akan bertanya ataupun akan masuk, atau individu yang punya agentic AI,” ujarnya.
Nezar juga mengingatkan bahwa penggunaan AI perlu memperhatikan pelindungan data pribadi. Risiko kebocoran dan penyalahgunaan data tidak hanya berkaitan dengan keamanan sistem, tetapi juga dapat muncul dari pemberian akses dan kewenangan kepada teknologi untuk memproses data.
Karena itu, ia menekankan pentingnya penerapan prinsip security by design dan privacy by design sejak tahap perancangan sistem.
“Kedua prinsip tersebut, perlu menjadi bagian dari upaya perusahaan memastikan pemrosesan data berjalan sejalan dengan ketentuan pelindungan data pribadi,” tegasnya.
Nezar menyatakan pemerintah terbuka terhadap masukan dari pelaku usaha mengenai persoalan baru yang muncul dalam penerapan teknologi.
“Masukan tersebut diperlukan untuk membantu mengidentifikasi risiko dan mendalami kebutuhan pengaturan teknis seiring perkembangan AI,” ungkapnya. (*/yav)










