Angkat Karakter Ikonik Sandur, Tari NYLULEK Antar Tuban Raih Juara Harapan I Urban Roots Festival 2026
- 01 November 2026 08:13
- Yavid
- Kegiatan Pemerintahan,
- 25
Tubankab – Kesenian tradisional Sandur Kabupaten Tuban kembali mendapat pengakuan di tingkat provinsi. Melalui karya tari bertajuk NYLULEK yang mengangkat karakter ikonik Wak Tangsil, Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Tuban meraih Juara Harapan I dalam ajang Urban Roots Festival 2026.
Penghargaan tersebut diumumkan pada malam puncak Awarding Night di Gedung Kesenian Cak Durasim, UPT Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, Jumat (30/10) malam.
Karya NYLULEK menjadi representasi kreativitas seniman Tuban dalam mengolah karakter Wak Tangsil ke dalam sajian tari yang memadukan kekuatan tradisi dengan sentuhan seni urban. Sosok Wak Tangsil yang dikenal jenaka, nyentrik, dan penuh tingkah polah dihadirkan sebagai figur tetua yang tetap lincah, kreatif, serta memiliki semangat hidup yang tidak lekang oleh usia.
Kepala Disbudporapar Kabupaten Tuban, Mohammad Emawan Putra, menyampaikan bahwa capaian tersebut menjadi kebanggaan sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan potensi seni budaya daerah. Menurutnya, keikutsertaan dalam festival tingkat provinsi menjadi kesempatan bagi seniman Tuban untuk memperkenalkan kekayaan tradisi lokal melalui karya inovatif.
Dalam karya tersebut, Zebi Fagiyanti, S.Sn., bertindak sebagai koreografer, sedangkan komposisi musik digarap oleh Dwi Tetuka, S.Sn. Keduanya mengolah karakter Wak Tangsil menjadi pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan tentang kearifan lokal dan semangat menjalani kehidupan.
Plt. Kepala Bidang Kebudayaan Disbudporapar Tuban, Angel Pramitasari, menjelaskan bahwa NYLULEK berangkat dari ungkapan Jawa, “Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi”. Ungkapan tersebut menggambarkan sosok yang tetap memiliki semangat, spontanitas, dan kegembiraan dalam menjalani kehidupan meskipun usianya terus bertambah.
“Wak Tangsil merupakan salah satu karakter ikonik dalam kesenian Sandur Tuban. Sosoknya dikenal dengan tingkah yang jenaka, nyentrik, gecul, dan slengekan. Melalui NYLULEK, karakter tersebut kami interpretasikan ke dalam bahasa gerak tari yang lebih dinamis, tanpa meninggalkan ciri khas dan nilai-nilai tradisi yang melekat pada sosok Wak Tangsil,” jelas Angel saat dikonfirmasi, Sabtu (31/10).
Ia menerangkan, kekuatan karya ini tidak hanya terletak pada gerakan yang jenaka dan menghibur. Banyolan tradisi juga menjadi bagian penting dalam menyampaikan pesan kehidupan. Di balik kelucuan dan spontanitas Wak Tangsil, terdapat kecerdikan, pengalaman, kritik sosial yang halus, serta kearifan dalam menyikapi berbagai persoalan.
“Kelucuan dalam karya ini bukan sekadar untuk mengundang tawa. Ada nilai kehidupan yang ingin disampaikan bahwa kearifan tidak selalu harus hadir melalui petuah yang serius. Terkadang, pesan dan kebijaksanaan justru bisa disampaikan melalui banyolan, tingkah sederhana, dan interaksi yang dekat dengan kehidupan masyarakat,” imbuhnya.
Keunikan NYLULEK juga terlihat pada penggarapan musik yang memadukan gamelan bernada slendro dengan unsur hip-hop. Komposisi musik orisinal tersebut menggali kekayaan musikal dari dua tradisi pertunjukan Tuban, yakni Sandur dan Tayub. Pola ritmik, gending, serta vokal khas tradisi diolah dan dipadukan dengan irama beat hip-hop sehingga menghasilkan nuansa musikal yang lebih segar dan kekinian.
Perpaduan tersebut menjadi upaya menghadirkan identitas musikal lokal dalam bahasa yang lebih dekat dengan perkembangan seni pertunjukan masa kini. Karakter tradisi tetap menjadi fondasi, sedangkan unsur urban memberikan warna baru dalam penyajian karya.
Angel menambahkan, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa tradisi tidak harus selalu ditampilkan dalam bentuk yang sama. Kekayaan budaya lokal justru dapat terus berkembang melalui kreativitas dan keberanian seniman dalam melakukan eksplorasi.
“Pesan utama yang ingin kami sampaikan melalui karya ini terangkum dalam ungkapan, 'Rogoku oleh tuwo, tapi nyowo tetep nom. Tuwo mung umur, nanging nom semangate.' Raga boleh menua, tetapi jiwa tetap muda. Tua hanya persoalan usia, sedangkan semangat harus terus dijaga untuk bergerak, berkarya, dan merayakan kehidupan,” ungkapnya.
Urban Roots Festival 2026 diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur pada 29–30 Oktober 2026 dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur. Festival tersebut diikuti 58 peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Setelah melalui proses kurasi, sebanyak 10 kelompok seni terpilih untuk mempresentasikan karya mereka pada babak final.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Evy Afianasari, menyampaikan bahwa Urban Roots menjadi wadah bagi seniman lokal untuk menggali potensi kesenian daerah sekaligus mengembangkan kreativitas tanpa meninggalkan akar budaya.
“Harapan kami adalah menemukan hasil-hasil penggalian kesenian lokal. Harus local pride, mereka harus berani menginovasi tanpa meninggalkan akar budaya atau nilai-nilai luhur,” ujarnya.
Prestasi Sembrani Art dalam ajang tersebut menunjukkan bahwa kesenian tradisional memiliki ruang untuk terus tumbuh dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Melalui NYLULEK, karakter Wak Tangsil tidak hanya dihadirkan sebagai tokoh jenaka dalam kesenian Sandur, tetapi juga menjadi simbol semangat, kegigihan, dan kearifan yang relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Pemkab Tuban melalui Disbudporapar berharap capaian tersebut dapat mendorong semakin banyak pelaku seni menggali potensi budaya daerah dan melahirkan karya kreatif. Dengan tetap berpijak pada akar tradisi, kesenian Tuban diharapkan semakin berkembang, dikenal luas, serta menjadi kebanggaan masyarakat Bumi Ronggolawe. (kdg/yav)










