Bupati Tuban Maknai Isra Mikraj sebagai Refleksi Spiritualitas dan Kepedulian Sosial
- 16 January 2026 21:49
- Yavid
- Kegiatan Bupati dan Wakil Bupati,
- 20
Tubankab – Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW dimaknai sebagai momentum reflektif untuk menautkan nilai spiritual dengan realitas sosial kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut disampaikan Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky, S.E., dalam keterangannya, Jumat (16/1), bertepatan dengan peringatan Isra Mikraj 1447 Hijriah.
Menurut Mas Bupati, perintah salat yang diterima Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra Mikraj bukan sekadar ritual ibadah personal, melainkan fondasi pembentukan karakter sosial. Salat mengajarkan keteraturan, kedisiplinan, serta kesadaran akan tanggung jawab, yang relevan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
“Salat mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, merefleksikan diri, lalu kembali menjalani kehidupan dengan sikap yang lebih tertata dan beretika. Dari situ lahir kepekaan sosial, kejujuran, serta rasa tanggung jawab terhadap sesama,” ujar Bupati yang akrab disapa Mas Lindra.
Ia menambahkan, nilai kebersamaan dalam salat berjamaah juga mencerminkan prinsip kesetaraan dan solidaritas sosial. Tidak ada sekat status maupun latar belakang. Semua berdiri sejajar, yang menjadi pesan penting dalam membangun kehidupan sosial yang inklusif dan saling menghormati.
Lebih lanjut, Mas Lindra menilai pemaknaan Isra Mikraj secara sosial semakin relevan di tengah tantangan masyarakat modern. Spirit ibadah perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, seperti memperkuat empati, menjaga harmoni sosial, serta membangun budaya gotong royong di lingkungan masing-masing.
“Ketika nilai salat hadir dalam perilaku sosial, maka kehidupan masyarakat akan lebih tertib, saling menghargai, dan penuh kepedulian,” pungkasnya. (dadang/yavid)










