Madrasah di Tuban Berbagi Praktik Baik Kurikulum Berbasis Cinta di Hadapan Menteri Agama
- 09 June 2026 08:26
- Yavid
- Kegiatan Pemerintahan,
- 59
Tubankab – Upaya membangun lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan penuh empati terus tumbuh di madrasah. Di Kabupaten Tuban, sejumlah madrasah mulai membiasakan refleksi harian, membangun komunikasi yang hangat antarguru, hingga menanamkan rasa syukur dalam aktivitas belajar. Praktik-praktik sederhana itu kini mendapat perhatian nasional dan dibagikan langsung di hadapan Menteri Agama Republik Indonesia.
Kementerian Agama Republik Indonesia meluncurkan Gerakan Satu Pengawas Satu Madrasah Percontohan untuk memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di seluruh Indonesia di Bandung, Rabu (9/6). Sebanyak 4.700 pengawas madrasah dilibatkan dalam gerakan ini guna memastikan nilai cinta, kepedulian, dan penghargaan terhadap keberagaman terintegrasi dalam praktik pembelajaran sehari-hari.
Dalam momentum tersebut, tiga madrasah dari Kecamatan Tuban, yakni MIN 1 Tuban, MI Hidayatun Najah, dan MI Ash-Shomadiyah, berbagi praktik baik selama implementasi Kurikulum Berbasis Cinta. Praktik tersebut menunjukkan komitmen madrasah dalam memulai transformasi pembelajaran yang lebih humanis dan berorientasi pada penguatan karakter peserta didik.
Melalui implementasi Panca Cinta dan enam nilai KBC, meliputi nilai spiritual, personal, sosial, intelektual, ekologi, dan kebangsaan, madrasah bergerak mewujudkan lingkungan pendidikan yang penuh cinta, aman, dan nyaman bagi seluruh warga madrasah.
Menteri Agama Republik Indonesia,Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa pengawas memiliki peran strategis dalam menjaga mutu sekaligus arah pendidikan madrasah.
“Pengawas adalah orang-orang terbaik yang mengawal mutu pendidikan madrasah. Pendidikan harus melahirkan cinta, bukan kebencian,” ujarnya saat peluncuran gerakan di Bandung, Rabu (9/6).
Selanjutnya, melalui program ini, setiap pengawas ditugaskan mendampingi sedikitnya satu madrasah sebagai model praktik baik implementasi KBC. Pendampingan difokuskan pada penguatan budaya belajar yang inklusif, aman, dan berpusat pada peserta didik. Selain itu, praktik baik yang berkembang didorong untuk didokumentasikan dan direplikasi secara lebih luas.
Untuk mendukung pelaksanaan program, Kementerian Agama menyediakan dua instrumen utama, yakni platform digital MAGIS (Madrasah Digital Supervision) dan Buku Saku Panduan Implementasi KBC. Kedua instrumen tersebut digunakan untuk memperkuat fungsi pendampingan, refleksi, serta pemantauan implementasi secara berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan pameran praktik baik yang menampilkan 12 booth dari madrasah mitra Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), yakni kemitraan pendidikan antara pemerintah Indonesia dan Australia. Pameran tersebut menampilkan berbagai inovasi penerapan KBC, termasuk penguatan budaya refleksi, kepemimpinan pembelajaran, dan praktik pembelajaran inklusif.
Madrasah yang berbagi praktik baik berasal dari Tuban dan Lumajang, Jawa Timur, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Cirebon, Jawa Barat, serta Ambon, Maluku.
Sementara itu, Direktur Program INOVASI, Sri Widuri, menyampaikan bahwa hasil studi baseline menunjukkan fondasi penerapan KBC di madrasah telah terbentuk, meskipun masih memerlukan penguatan pada beberapa aspek.
“Kami melihat banyak praktik baik yang sudah berjalan. Ke depan, penting untuk memperkuat hubungan yang aman dan bebas perundungan serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, melalui pendampingan berbasis refleksi,” ujarnya.
Sri Widuri menambahkan bahwa transformasi di madrasah perlu terus didorong melalui perubahan perilaku orang dewasa, khususnya guru dan kepala madrasah. Pendampingan berbasis refleksi dinilai penting karena keteladanan mereka menjadi kunci dalam menghidupkan nilai-nilai KBC di lingkungan madrasah.
Salah satu praktik baik ditunjukkan oleh MI Hidayatun Najah, Tuban, yang menerapkan pendekatan emotional check-in bagi guru serta membangun kebiasaan refleksi dan rasa syukur dalam kegiatan harian. Kepala MI Hidayatun Najah, Ahmad Al Adib, menyebut pendekatan tersebut mampu meningkatkan komunikasi, memperkuat kolaborasi, dan menciptakan suasana kerja yang lebih positif.
Melalui gerakan nasional ini, Kementerian Agama menargetkan semakin banyak madrasah yang unggul secara akademik sekaligus mampu menumbuhkan karakter, empati, dan budaya saling menghargai menuju terwujudnya Madrasah Penuh Cinta. (yav)










