Peserta Paragan Kridha Laksana (PKL) Bregada XV Permadani Tuban mempraktikkan tata urutan dan pakem upacara pernikahan adat Jawa sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya dan pembentukan calon pranatacara serta pamedhar sabda. (yeni dh)

PKL Bregada XV Permadani Tuban Gembleng 32 Generasi Muda Jadi Pelestari Budaya Jawa

  • 21 June 2026 22:34
  • Yavid
  • Umum,
  • 12

Tubankab - Sebanyak 32 siswa Bregada XV mengikuti Paragan Kridha Laksana (PKL) Tahun 2026 yang diselenggarakan Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani) Tuban di Aula Padepokan SH Terate Cabang Tuban, Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu, Minggu (21/6). Melalui kegiatan ini, para peserta dibekali pemahaman sekaligus praktik langsung tata urutan, filosofi, dan pakem upacara pernikahan tradisional Jawa sebagai upaya menyiapkan generasi penerus pelestari budaya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Pengurus DPD Permadani Tuban beserta perwakilan Bregada I hingga XIII, Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) Melati Tuban, Katalia Tuban (Asosiasi Ahli Rias Pengantin Modifikasi dan Modern), Tiara Kusuma (Persatuan Ahli Kecantikan dan Pengusaha Salon Indonesia), serta DPD Masyarakat Adat Nusantara (Matra).

Sementara itu, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Permadani Tuban, Indah Sri Hari Peni, menyampaikan bahwa PKL merupakan salah satu bentuk praktik nyata dalam mencetak calon pranatacara dan pamedhar sabda yang profesional. Kegiatan ini berfokus pada pelestarian budaya luhur melalui praktik langsung tata urutan, filosofi, dan paugeran atau aturan pakem upacara pernikahan tradisional Jawa.

Lebih lanjut, Indah, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa kegiatan Permadani Tuban diharapkan mampu membentuk alumni yang memahami adat sekaligus siap menjadi teladan budaya. Hal tersebut juga menegaskan komitmen Permadani Tuban dalam menjaga dan mewariskan budaya luhur kepada generasi berikutnya.

Selain itu, Indah berpesan agar warga Permadani senantiasa memiliki jiwa besar dalam bermasyarakat (ladosing bebrayan). Sikap tersebut berlandaskan Tri Niti Yogya yang bermakna tiga jalan utama, yakni Memayu Hayuning Bawana (memelihara keselamatan dunia), Memayu Hayuning Sasama (mengasihi sesama), dan Memayu Hayuning Awak (mawas diri).

"Warga Permadani harus selalu berjiwa besar. Bisa menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Adapun, ilmu yang didapatkan di Permadani sebagai sangu salam ladosing bebrayan," ujarnya, Minggu (21/6).

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Seni Budaya DPD Permadani Tuban, Nanang Ferianto, menjelaskan penerapan busana Solo Basahan dan Solo Putri, baik untuk digunakan di dalam maupun di luar keraton.

Menurutnya, pemahaman tersebut penting agar warga Permadani mampu menjaga marwah organisasi dengan baik di berbagai wilayah di Indonesia. Di samping itu, mereka juga diharapkan menjadi teladan bagi generasi muda dalam pelestarian budaya, khususnya budaya Jawa. (yeni dh/yav)

comments powered by Disqus