Rajendra Bhadra Prihantara meraih Medali Perak OSN Nasional 2026 bidang Fisika. (ist)

Pelajar Tuban Rajendra Bhadra Prihantara Raih Medali Perak OSN Fisika Nasional 2026

  • 08 October 2026 08:43
  • Yavid
  • Umum,
  • 22

Tubankab – Bertahun-tahun mencoba mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN), Rajendra Bhadra Prihantara akhirnya berhasil menembus panggung nasional. Siswa asal Kabupaten Tuban itu meraih Medali Perak OSN Tingkat Nasional Jenjang Pendidikan Menengah (Dikmen) Tahun 2026 bidang Fisika.

OSN Dikmen 2026 tingkat nasional berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Malang, Jawa Timur, 14–20 September 2026. Ajang tersebut mempertemukan 570 peserta dari 38 provinsi yang telah melewati rangkaian seleksi berjenjang hingga tingkat nasional.

Bagi Rajendra—sapaannya, capaian itu terasa istimewa. Siswa yang berdomisili di Jalan Basuki Rahmat, Tuban, tersebut mengaku telah mengikuti ajang OSN sejak sekolah dasar. Namun, baru tahun ini ia berhasil menembus tingkat nasional dan langsung membawa pulang medali perak.

“Pertama kali rasanya sangat tidak terduga. Saat tes saya sebenarnya tidak terlalu percaya diri dengan jawaban-jawaban yang saya kumpulkan,” ujar Rajendra, Kamis (8/10).

Ketertarikan Rajendra terhadap fisika bermula saat duduk di bangku SMP. Ketika itu, ia mengikuti OSN bidang IPA. Dari pengalaman tersebut, ia mulai menyadari bahwa kemampuan dirinya lebih condong pada bidang yang membutuhkan perhitungan, meski tidak sepenuhnya seperti matematika.

Pilihan itu kemudian membawanya semakin mendalami fisika, terutama sejak kelas IX. Sejak saat itu, persiapan dilakukan secara konsisten untuk menghadapi kompetisi dengan tingkat kesulitan yang semakin tinggi.

“Saya mempersiapkan diri untuk memahami materi-materi OSN kurang lebih selama setahun dan menjaga frekuensi belajar tetap rutin,” katanya.

Dalam persiapannya, siswa kelas XI SMAN 1 Tuban itu mendapatkan dispensasi dari sekolah agar dapat fokus mempelajari materi OSN. Waktu belajarnya pun disesuaikan dengan kondisi fisik dan mental. Ketika memiliki waktu dan energi yang cukup, ia bahkan bisa belajar hingga delapan jam dalam sehari.

Meski demikian, Rajendra menyadari belajar terus-menerus tanpa jeda justru dapat memicu kejenuhan. Karena itu, ketika merasa lelah atau mengalami burnout, ia memilih berhenti sejenak dan melakukan aktivitas yang disukainya untuk menyegarkan pikiran.

Selain penguasaan materi, tantangan lain yang ia hadapi adalah manajemen waktu. Soal-soal OSN memiliki tingkat kesulitan tinggi sehingga peserta tidak hanya dituntut memahami konsep, tetapi juga menentukan strategi pengerjaan secara cepat dan tepat.

“Yang paling menantang adalah manajemen waktu dan pengerjaan soal. Soal yang diberikan sangat sulit dan hampir tidak mungkin diselesaikan dalam waktu yang diberikan,” ungkapnya.

Di balik capaian tersebut, ada dukungan yang terus mengiringi proses persiapan Rajendra. Orang tuanya, Ina Budi Harumanti dan Budiono Prihantoro, menjadi salah satu sumber dukungan utama. Selain itu, tutor turut membimbingnya mulai dari pemahaman dasar hingga materi tingkat OSN, sementara teman-temannya memberikan semangat selama proses persiapan.

Dukungan itu kemudian dilengkapi sekolah melalui program pembinaan yang dilakukan secara terstruktur. Waka Kurikulum sekaligus Pembina Fisika, Subqanrizal, menjelaskan bahwa sekolah terlebih dahulu memetakan calon peserta berdasarkan histori nilai mata pelajaran dan prestasi siswa.

Setelah itu, peserta mendapatkan bimbingan rutin setiap minggu bersama pembina. Menjelang seleksi tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional, sekolah juga mendatangkan pembina dari luar untuk menambah bekal peserta.

“Menjelang tes, peserta mendapatkan dispensasi khusus agar dapat fokus mempersiapkan diri tanpa terganggu mata pelajaran reguler,” jelasnya.

Tidak hanya siswa, sekolah juga melibatkan orang tua dalam proses pembinaan. Wali murid peserta OSN diundang untuk memahami program sekolah sekaligus didorong memberikan dukungan tambahan melalui bimbingan mandiri.

Menurut Subqan, Rajendra memiliki kemampuan dasar di atas rata-rata pada hampir seluruh bidang. Potensi tersebut menjadi modal yang terus dikembangkan selama proses pembinaan.

Pada saat yang sama, dukungan orang tua juga dinilai penting, terutama dalam menyediakan biaya, waktu, dan perhatian selama persiapan kompetisi.

Bagi Rajendra, medali perak yang diraih bukan sekadar penghargaan. Capaian itu menjadi bukti bahwa proses panjang, konsistensi belajar, dan keberanian menghadapi kompetisi dapat membawanya bersaing dengan pelajar terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.

Lebih dari itu, medali tersebut memiliki arti khusus bagi sekolah dan Kabupaten Tuban. Menurut Rajendra, capaian ini menjadi medali OSN pertama bagi sekolah dan Kabupaten Tuban sejak 2020.

Ke depan, Rajendra ingin melanjutkan pendidikan di bidang engineering, khususnya electrical engineering atau teknik elektro, sekaligus menekuni dunia teknologi.

Ia juga berpesan kepada pelajar lain agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan atau merasa kemampuan diri belum cukup.

“Jangan pernah berhenti berharap, karena semuanya bisa terjadi sesuai dengan kemampuan dan perjuangan kita sendiri,” pesannya.

Perjalanan Rajendra menunjukkan bahwa prestasi nasional tidak selalu lahir dari keberhasilan pada percobaan pertama. Ada proses panjang, latihan yang konsisten, dukungan orang-orang terdekat, serta keberanian untuk terus mencoba. Dari proses itulah, seorang pelajar Tuban akhirnya mampu membawa pulang medali perak dari panggung OSN Fisika nasional. (kdg/yav)

comments powered by Disqus