Foto : Dinkes Tuban saat gelar Pertemuan Evaluasi dan Perencanaan Program TBC. (siti)

Dinkes P2KB Tuban Perkuat Peran Kader TB Puskesmas, Ini Tujuannya

Tubankab – Pemerintah Kabupaten Tuban melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) menggelar Pertemuan Evaluasi dan Perencanaan Program Tuberkulosis (TBC) yang bertempat di aula Dinkes P2KB Tuban, Jumat (28/02).

Upaya ini dilakukan sebagai langkah strategis menekan angka kasus TBC di daerah. 

Kegiatan ini diikuti oleh penanggung jawab TB dari seluruh puskesmas se-Kabupaten Tuban guna memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, serta pengobatan penyakit menular tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Tuban, Syahrul Afifa Ratna Sari dalam sambutannya menyebut bahwa Indonesia merupakan negara dengan kasus TB tertinggi kedua di dunia setelah India. Salah satu tantangan utama dalam pengendalian TB adalah masih adanya pasien yang enggan untuk berobat, sehingga memperluas risiko penularan. Oleh karena itu, Dinkes P2KB Tuban menekankan pentingnya peran puskesmas dalam menerima pasien beserta kontak serumahnya serta meningkatkan keterlibatan kader kesehatan dalam mendampingi pasien agar mau menjalani pengobatan.

Dijelaskan Ratna, berbeda dengan pelatihan sebelumnya yang berfokus pada peran kader dalam menemukan kasus TB, pada pelatihan kali ini menitikberatkan pada strategi meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien. Sehingga melalui strategi ini, upaya pengendalian TB di Kabupaten Tuban semakin efektif dan mampu menekan angka penularan. "Hari ini yang hadir adalah penanggung jawab TB dari puskesmas, dengan tujuan agar mereka lebih aktif dalam mendorong pasien untuk menjalani pengobatan," tuturnya.

Selain mendorong pasien untuk patuh dalam menjalani pengobatan, Dinkes P2KB Tuban juga menekankan pentingnya ketersediaan obat Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Tuban, Syahrul Afifa Ratna Sari, mengingatkan agar puskesmas selalu berkoordinasi dengan farmasi guna memastikan stok obat tersedia. Jika terjadi kekurangan, pihak puskesmas harus segera mengonfirmasi ke dinas terkait agar pasien tetap mendapatkan pengobatan tepat waktu. 

Berdasarkan data terbaru, dalam dua bulan terakhir terdapat 48 pasien yang telah menjalani pengobatan TB, sedangkan dalam satu tahun terakhir jumlah pasien yang telah ditangani mencapai 200 orang. Sebagai upaya pencegahan dini, Dinkes P2KB Tuban akan menggelar skrining tuberkulosis bagi anak usia dua tahun dengan pemeriksaan kesehatan gratis (CKG). Selain itu, kebijakan penanganan TBC di puskesmas juga perlu ditingkatkan, termasuk menangani kasus TBC-IKA-TPT serta memastikan pasien menyelesaikan pengobatan selama enam bulan penuh hingga tuntas.

Dalam kesempatan ini, pemerintah juga menyampaikan bahwa akan ada penghargaan bagi kabupaten/kota yang berhasil mengendalikan TBC setiap dua tahun sekali. Penghargaan ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi daerah dalam memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular tersebut. Dengan adanya evaluasi rutin dan kebijakan yang lebih efektif, diharapkan program TBC di Kabupaten Tuban dapat berjalan lebih baik, menekan angka penularan, serta meningkatkan tingkat kesembuhan pasien.

Ratna Sari juga menambahkan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan, tetapi juga pada sinergi antara kader TB dan puskesmas dalam menemukan serta mengedukasi pasien. "Kami berharap pelatihan TB di Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban dapat semakin memperkuat kolaborasi ini. Dengan semakin banyak kasus yang ditemukan lebih awal, kita bisa mencegah penyebaran yang lebih luas," tutupnya. (siti mahfudotin/yavid/hei)

comments powered by Disqus